Saya melihat sejumlah masjid bergerak untuk membantu warga –lebih khusus mereka yang berusia muda. Generasi Z. Dengan kondisi listrik yang masih bermasalah, sejumlah mesjid berinisiatif menyediakan fasilitas listrik. Bahkan ada yang menyediakan kabel dan coknya. Sejumlah masjid memiliki genset yang memadai. Entah bagaimana pengurus masjid melakukannya. Tetapi pasti ada jalan. Pasti ada penyumbang yang terketuk hatinya melihat keadaan masjid. Demikian juga dengan kebutuhan minyak, pasti dimudahkan untuk mendapatkan (sekadar) untuk bahan bakarnya. Masjid jadi ramai hingga larut malam.
Sayangnya hingga sekarang ada masjid yang biasa-biasa saja. Bahkan di tengah kondisi semacam ini, yang listrik sehari nyala hingga dua-tiga malam mati, justru ada yang belum punya genset. Ada genset yang sudah rusak bertahun, tidak diperbaiki. Saya tidak tahu persis apa alasannya. Tidak heran, saat giliran mati listrik, masjid hanya tersedia penerang apa adanya. Biasanya sejumlah lampu penyimpan energi yang hanya tahan beberapa jam saja. Termasuk kebutuhan air. Bisa dibayangkan ketika jamaah datang ke masjid, ada yang tidak tersedia air dengan baik. bisa jadi penampung yang kecil, atau penggunaan yang lebih sedangkan mesin penarik air hanya hidup ketika listrik ada.
Fasilitas ini, sesungguhnya juga tergantung kita. Jika enggan mengeluarkan sebagian sedekah terbaiknya, sampai kapan pun akan demikian. Para jamaah harus menyumbang untuk menghidupkan masjid, dan memenuhi berbagai kebutuhan yang ada. Melihat laporan tiap Jumat, sepertinya rata-rata masjid memiliki pengeluaran standar. Kecuali sejumlah masjid yang sangat kreatif, menyediakan berbagai fasilitas untuk jamaah. Biasanya masjid yang demikian juga sebanding dengan bantuan yang ada. Apalagi masjid yang jamaahnya hidup dan pengelolanya aktif, jumlah penerimaan untuk masjid pasti banyak.
Saya ingin menyentuh tentang fasilitas di atas. Ketika pengurus masjid memfasilitasi arus listrik untuk para generasi muda. Listrik bagi anak muda, bisa saja berbeda-beda. Ada yang kepentingan pendidikan. Pasti ada juga yang hanya hiburan. Kepentingannya macam-macam. Karena kepentingan berbeda inilah, pasti masing-masing orang juga berpikir berbeda. Sebagian berpikir, untuk apa masjid bersusah payah menyediakan hal ini karena sebagian mereka justru hanya hiburan. Tetapi sebagian justru sebaliknya. Dengan ada aliran di masjid, justru generasi lebih terkontrol. Mereka tidak mencari di tempat yang tidak jelas. Apalagi ramai-ramai di café hingga sebagian besar tidak bergerak bahkan saat azan magrib. Setidaknya di masjid, orang tua bisa mendampingi.
Selain itu, pasti malu mereka yang ke masjid hanya untuk mendapatkan aliran listrik. Pasti mereka akan bergegas mengambil wudhu saat azan berkumandang.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.