Negara dan Teror

Akhir-akhir, semakin bersahut-sahutan teror bagi mereka yang terlibat langsung di lapangan, maupun sejumlah orang yang memiliki pengaruh di media sosial, lalu menyampaikan apa yang dilihatnya ke publik. Tentu saja, apa yang disampaikan mereka yang melihat …

Akhir-akhir, semakin bersahut-sahutan teror bagi mereka yang terlibat langsung di lapangan, maupun sejumlah orang yang memiliki pengaruh di media sosial, lalu menyampaikan apa yang dilihatnya ke publik. Tentu saja, apa yang disampaikan mereka yang melihat kondisi langsung di lapangan, bisa saja ada yang tidak menyenangkan bagi pihak lain. Ada berbagai kepentingan yang akan terganggu. Lebih jauh, dalam kondisi bencana ekologis, akar masalah ekologis sesuatu yang harusnya sudah dipikirkan. Apa yang terlihat di Sumatera dalam beberapa waktu terakhir, tampak ada proses masif yang terjadi, terutama dengan kerusakan lingkungan.

Penegasan pentingnya adalah ketidakmungkinan terjadi bencana ekologis tanpa pemicu. Kondisi ini antara lain yang disampaikan sejumlah pihak, yang kabarnya sebagian mereka yang kena teror dengan berbagai cara. Ada yang dirusak mobilnya, dilempar bom molotov ke rumah, ditelepon dan permintaan tertentu, serta bentuk lain seperti mengendalikan alat komunikasi. Sejumlah perlakuan tersebut, tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa. Mereka yang melakukan, pasti memiliki kemampuan tertentu, dengan berbagai kepentingan yang tidak bisa ditebak dengan baik.

Secara konsep, teror sebenarnya terkait dengan kondisi ketakutan yang ingin diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang. Dengan teror, hal yang diharapkan menyebarkan ketakutan kepada semakin banyak orang, agar pihak yang diteror mengakhiri aktivitas yang bisa jadi akan berakibat bagi peneror. Selain itu, ketakutan dari teror itu juga terkait perasaan bahaya yang mengancam, yang prosesnya seringkali disebabkan oleh Tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan. Semuanya itu dilakukan secara sengaja untuk membuat ketakutan bagi banyak orang lainnya. Ketakutan inilah biasanya terkait dengan kepentingan tertentu, baik politik, ideologis, bahkan ekonomi.

Dengan konsep tersebut, jelas teror itu selalu melibatkan ancaman dan kekerasan fisik (karenanya menimbulkan rasa takut). Selain itu, teror selalu didorong oleh motif politik atau ideologi tertentu (makanya untuk teror ini dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa). Hal yang terpenting tujuan atau dampak yang diharapkan, berupa ketakutan bagi masyarakat yang bersangkutan agar tidak mengulangi hal yang pernah dilakukan kepada terteror.

Dalam bencana Sumatera, sejumlah aktivis dan influencer merasakan teror tersebut karena terkait memberi kritik terkait penanganan bencana oleh pemerintah. Seorang aktivis, Yama, merasakan ibu temannya yang di-hack dan meminta videonya dihapus. Selain itu, ia menerima orderan fiktif yang nominal besar mengatasnamakan istrinya. Influencer Sherly Annavita, merasakan teror dalam bentuk pelemparan telur busuk di depan rumah dan coretan pada mobil, setelah menyuarakan kritik penanganan bencana. Influencer lainnya, DJ Donny, mendapat kiriman bangkai ayam, dengan pesan ancaman, serta pelemparan bom molotov. Aktivis Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mendapat kiriman bangkai ayam dengan pesan “Jagalan ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu, mulutmu harimaumu”.

Dalam teror semacam ini, negara umumnya tidak terlalu ambil pusing dalam rangka merespons apa yang dialami oleh korban. Apalagi teror terhadap orang-orang yang mengkritik pengelolaan negara, meminta pertanggungjawaban negara untuk sesuatu apapun yang dialami warganya, bukan sesuatu yang mudah. Padahal setiap warga, harusnya mendapatkan perlindungan dengan baik dari negara, bahkan termasuk untuk mereka yang tiada henti mengkritisi pelaksanaan kekuasaan negara.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment