Saya ingin melihat kekurangan pengetahuan pribadi saya terkait bencana. Pertanyaan yang sejumlah kesempatan saya tanyakan kepada sejawat, bahwa apakah dalam bencana 25-30 November 2025 di Sumatera itu hanya dilihat sebagai siklon saja? Pertanyaan awam saya, apakah semua dampak yang kita rasakan berdasarkan bencana akhir November itu hanya dalam arena badai dan semacamnya? Jawaban awam saya, sepertinya tidak. Berangkat dari bagaimana memahami bencana, siklon itu hanya salah satu. Bencana yang terjadi, dilengkapi dengan varian lainnya. Jika siklon dianggap sebagai bencana alam, maka ada faktor manusia yang menyebabkan bencana tidak lagi sebagai bencana alam, melainkan juga bencana nonalam –istilah yang berdasarkan berperkembangan keilmuan hanya dipegang bencana.
Siklon selalu didasari oleh keadaan badai tropis besar yang berputar (angin kencang, hujan lebat) terbentuk di atas lautan hangat. Ia mendapatkan energi dari penguapan air laut. Wujudnya angin yang sangat kencang, dengan hujan ekstrem, gelombang badai, hingga dapat menyebabkan banjir di wilayah pesisir. Nama siklon tergantung dimana kejadiannya. Dalam salah satu artikel Kompas, “Apa Beda Badai Siklon, Topan, dan Hurikan?” Gloria Setyvani Putri menjelaskan berdasarkan ahli meteorologi, siklon, topan, dan hurikan secara teknis adalah sama: siklon tropis. Perbedaannya utama terletak pada lokasi geografis di mana badai tersebut terbentuk. Siklon (cyclone) digunakan ketika badai muncul di Pasifik Barat Laut dan Samudera Hindia. Topan (typhoon) digunakan ketika badai muncul di Pasifik Barat Laut. Dan hurikan (hurricane) ketika badai muncul di Atlantik Utara, Pasifik Utara bagian Tengah, dan Pasifik Utara bagian Timur. Siklon tropis sendiri didefinisikan sebagai badai yang berputar cepat dan dimulai di atas lautan tropis. Istilah siklon tropis digunakan ketika badai mencapai kecepatan angin berkelanjutan maksimum 74 mph (sekitar 119 km/jam) atau lebih tinggi. Keadaan berbahaya jika mencapai daratan.
Terkait dengan perjumpaan dengan ruang yang lain itulah, bencana menjadi bergeser. Jika disederhanakan, mungkin bisa disebut, dari bencana di balik awan ke bencana darat. Istilah hidrometereologi barangkali bisa mewakili varian tersebut. Bencana hidro untuk menjelaskan bencana terkait air dan cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, kekerangan, dan gelombang panas, yang sering menjadi akibat dari siklon (atau bisa kategori dampak cuaca).
Saya ingin berangkat dari pertanyaan lainnya, apakah setiap siklon pasti akan menghasilkan banjir, tanah longsor, dan sebagainya? Apakah tidak ditentukan sama sekali oleh bagaimana jalur darat menyiapkan semua potensi bencana? Saya beranggapan, ada hal lain yang berperan di jalur darat, dalam memperlihatkan bencana apapun yang terjadi –termasuk apa yang menimpa Sumatera pada 25-20 November 2025. Ada bencana darat yang disebabkan oleh perilaku manusia rakus, dengan alih fungsi lahan yang gila-gilaan. Belum lagi membabat hutan yang ada untuk kepentingan nonhutan dan berpotensi menjadikan lahan tidak terkendali.
Cara pandang semacam ini akan sangat berpengaruh bagaimana pemerintah akan merespons (setiap) terjadinya bencana. Dengan bertumpu pada bencana alam, seolah-olah bencana sebagai sesuatu yang terjadi begitu saja dengan berbagai dampaknya bagi manusia. Untuk kondisi Sumatera, jika berangkat dari cara pandang semacam itu, maka sungguh sangat berbahaya bagi pertanggungjawaban pemerintah selaku pengelola negara –yang harusnya selalu memastikan kebahagiaan rakyatnya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.