SDA sebagai Kutukan

Kajian-kajian yang menyebutkan SDA sebagai kutukan, sudah banyak disampaikan para ahli. Konteks kutukan terletak pada realitas negara-negara yang memiliki SDA melimpah, justru mengalami pembangunan yang buruk. Kutukan SDA (resource curse) ini dikaitkan dengan kekayaan SDA …

Kajian-kajian yang menyebutkan SDA sebagai kutukan, sudah banyak disampaikan para ahli. Konteks kutukan terletak pada realitas negara-negara yang memiliki SDA melimpah, justru mengalami pembangunan yang buruk. Kutukan SDA (resource curse) ini dikaitkan dengan kekayaan SDA yang melimpah justru membuat rakyat di dalamnya makin merasa sengsara.

Penyebab utama dari kutukan SDA adalah pengelolaan yang buruk dan korup. Dalam menghadapi kekayaan SDA, institusi negara juga lemah dan korup. Paradoks tersebut yang kerap muncul pada negara-negara yang memiliki SDA tinggi.

Hal tersebut juga menjangkiti negara ini. Kelembagaan yang lemah dan korup –melalui penyalahgunaan pendapatan besar dari semua sektor SDA—dengan memanipulasi perizinan hingga konsumsi kebutuhan politik yang berlebihan. Semua perusahaan yang bergerak dalam bidang SDA, selalu merasa rugi.

Penyebab lainnya adalah negara hanya bergantung pada sejumlah sektor ekstraktif saja, seperti minyak atau batubara. Kondisi ini menyebabkan investasi dan tenaga kerja yang tidak merata, sehingga sektor lain tidak berkembang dengan baik. Dampak langsung dari kondisi di atas adalah akan munculnya ketimpangan sosial yang hebat. Pembangunan menjadi sangat eksploitatif, bahkan melupakan masyarakat marjinal yang ada.

Keberadaan masyarakat hukum adat yang kenyataannya kerap terpinggirkan –bahkan ada yang mendapat kriminalisasi hanya gara-gara mempertahankan cara berpikirnya terhadap lingkungan—menjadi contoh bagaimana ketimpangan muncul dan disadari bertumbuh dalam masyarakat. Tak jarang mereka yang sudah hidup berabad-abad di tempat yang kemudian ditemukan SDA, justru terusir begitu saja saat SDA itu mau dieksploitasi.

Begitulah tesis kutukan SDA yang umumnya dialami negara-negara yang kaya SDA. Tesis ini muncul pertama kali dari Richard Auty tahun 1993, untuk menjelaskan bagaimana negara-negara kaya SDA justru tidak mampu berbuat dengan baik dalam mendorong ekonomi mereka. Justru yang terjadi sebeliknya. Pertumbuhan ekonomi yang dialami lebih lambat dari negara-negara minim SDA (Lean & Clark, 2017).

Dengan mengacu pada apa yang disebutkan Auty (1993), ia merujuk pada hubungan terbalik antara ketergantungan SDA dan pertumbuhan ekonomi. “This curse refers to an inverse association between natural resource dependence and economic growth. A more specific “oil curse” has been attributed to countries whose economies are heavily reliant on oil production” (Lean & Clark, 2017).

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment