Proses dan Doa

Percayalah, tanda tanya semacam ini bisa saja menyentak. Seberapa sering kita berpikir tentang hidup yang kita alami? Khususnya berpikir tentang akan kemana hidup kita nanti? Apakah kita akan hidup kekal? Jika tidak kekal, akan kemana? …

Percayalah, tanda tanya semacam ini bisa saja menyentak. Seberapa sering kita berpikir tentang hidup yang kita alami? Khususnya berpikir tentang akan kemana hidup kita nanti? Apakah kita akan hidup kekal? Jika tidak kekal, akan kemana? Bila kita yakin akan ada hidup yang abadi, maka apa yang kita persiapkan untuk menyambut hidup yang abadi itu?

Seberapa risau kita menyambut pertanyaan-pertanyaan demikian? Tanda tanya paling penting, ketika kita yakin akan berhadapan dengan hidup yang sesungguhnya, maka sepenting apakah persiapan kita lakukan untuk menyambut kehidupan yang abadi itu? Jangan-jangan kita tidak melakukan sesuatu secara sempurna.

Saya termasuk orang yang sepertinya tidak berpikir sungguh-sungguh mengenai hal ini. Padahal saya yakin itu akan saya alami, namun tidak melakukannya dengan persiapan yang super dalam rangka menyiapkannya. Sepertinya kita butuh banyak bisikan bahwa terminal tempat kita bersinggah itu, bisa kapan saja kita berada di sana.

Semua proses diiringi dengan doa. Itulah pengalaman saya ketika ditanyakan seorang teman lama. Kapan terakhir kita bisa berdoa dengan kusyuk. Doa itu merupakan sebuah harapan yang kita sampaikan kepada Pencipta, dengan doa kita berharap bahwa apa yang kita minta akan diberikan. Sesuatu yang kita minta itu, otomatis harus dilakukan dengan penuh harap, tidak boleh setengah-setengah. Jangankan dengan ukuran setengah-setengah, berdoa itu seyogianya harus dilakukan dengan yakin bahwa apa yang kita harapkan akan dipenuhi. Lantas dengan harapan demikian, bagaimana mestinya kita berharap tersebut? Seharusnya, sebagai pihak yang berharap apa yang menjadi harapannya itu diterima dengan baik, maka seseorang akan melakukannya dengan sempurna.

Pertanyaan teman saya, itu terkait kapan kita melakukannya secara sempurna, terakhir kali? Ataukah pernah kita berhasil melakukannya dengan sempurna? Jangan-jangan belum sekalipun kita berhasil berdoa dengan penuh kekusyukan? Selama ini berdoa hanya sebagai formalitas dan hanya soal fisik. Bahkan hati kita mungkin saja tidak bergetar ketika menyebut Pencipta, sebagai sasaran semua harapan. Artinya kita berdoa, mengucap sesuatu yang kita minta, namun permintaan tersebut hanya berhenti di bibir, di alat ucap, tidak sampai ke hati. Berharap dengan sepenuh jiwa, maka akan dilakukan dengan sempurna, didahului dengan pengakuan secara lahir dan batin bahwa kita adalah hamba.

Mengapa pertanyaan itu muncul? Mungkin karena ia merasakan selama ini banyak di antara kita yang berharap sesuatu kepada Pencipta, namun terkesan tidak mulai dengan pengakuan lahir dan batin posisi kita sebagai hamba. Kita selalu berucap bahwa kita sebagai hamba, namun dalam perbuatan, banyak yang merasa seolah-olah berkuasa. Banyak yang seolah-olah bisa menjamin hidup atau matinya seseorang, ragu dengan rezeki yang sudah bertumpuk-tumpuk ditentukan, tidak yakin dengan maut yang sudah tercatat di Lauh Mahfudz.

Berdoa itu, secara fisik mirip ketika seseorang membawa proposal. Kondisi agar harapan terpenuhi, maka kita akan mempersiapkan sesempurna mungkin proposal tersebut. Bahkan tidak ada pertanyaan apapun yang harus ditanyakan ketika orang membacakan proposal yang diajukan. Begitulah detailnya yang kita persiapkan. Demikian juga ketika kita bawa, kita persiapkan sedemikian rupa. Tidak lewat dari waktu-waktu yang menurut kita sangat baik agar cepat sampai kepada yang kita tuju. Ketika kita antar, kita juga melakukannya dengan rapi. Pakaian yang bagus ketika membawanya, dengan wewangian yang juga bagus. Pokoknya jangan terkesan sedikit pun ada yang kurang dari proposal. Itu secara fisik. Sedangkan secara batin, apa yang kita bawa secara fisik itu kita persiapkan demikian sempurna, dalam hati kita juga penuh harap bahwa proposal kita diterima.

Mungkin terlalu sederhana apabila doa itu kita analogkan dengan orang yang membawa proposal. Tentu tidak sesederhana itu. Hanya saja, contoh itu bisa kita bandingkan, bahwa adakah untuk berdoa sama seperti kita persiapkan secara bagus sebagaimana kita mempersiapkan proposal bagi kebutuhan tertentu? Apabila pada taraf itu saja belum, maka mari kita evaluasi diri. Jangan-jangan pertanyaan teman saya adalah kondisi kita. yakinlah hanya orang yang yakin dan mempersiapkan dengan sempurna, yang bisa berharap dengan kusyuk.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment