Akhir-akhir ini, kita di Aceh digembirakan para pelajar yang meraih medali dalam olimpiade ilmu pengetahuan di beberapa daerah dan negara. Kado itu, seperti menepis anggapan bahwa tidak ada anak pandai-cerdas dari tanah yang selalu berada dalam keping-keping petaka konflik yang disusul tsunami ini.
Sejak kehadiran sekolah unggul, baik di Banda Aceh maupun di kabupaten dan kota, menampakkan kemajuan pesat tingkat prestasi gemilang yang dihasilkan. Dalam berbagai even, deretan nama-nama siswa berprestasi didominasi oleh sekolah-sekolah unggul dan sekolah maju (asumsi dari banyaknya peminat dan banyaknya yang tertampung di perguruan tinggi negeri).
Kenyataan ini, di satu pihak sangat membahagiakan. Dalam rentang perjalanan perkembangan pendidikan, Aceh masa lalu sangat miskin prestasi. Apalagi ketika dalam beberapa tahun, tingkat indeks sumberdaya manusia di Aceh hampir berada di titik nadir dalam negara Indonesia (Indonesia sendiri menjadi langganan di posisi antara ring rangking 80-110). Belum lagi pada masa konflik, sekolah dan guru turut menjadi korban. Belum lagi tsunami, yang turut memperparah kondisi pendidikan di Aceh.
Berbagai implikasi yang ditimbulkan dari tragedi dan bencana, pada akhirnya memperlihatkan ketercapaian terbalik dari harapan adanya keistimewaan Aceh, di samping agama dan adat, juga termasuk pendidikan di dalamnya. Orang bisa membandingkan, bahwa daerah lain yang tanpa keistimewaan pun, memiliki prestasi yang lumayan bagus.
Memaknai suasana seperti ini, jelaslah prestasi-prestasi yang ditunjukkan siswa Aceh membawa suasana gembira yang sulit dilukiskan. Dengan prestasi itu, dapat menjadi kekuatan menuju kebangkitan kembali dan memperlihatkan kepada dunia, bahwa anak-anak Aceh juga berprestasi.
Di pihak lain, perasaan saya gelisah. Apabila dalam jangka waktu tertentu, prestasi itu selalu didominasi oleh sekolah yang sama, saya takutkan akan berimplikasi negatif kepada sekolah lainnya. Barangkali asumsi ini berbeda dengan beberapa pendapat yang menyatakan akan membawa pengaruh positif. Namun menurut saya, bila dalam waktu yang lama tidak bisa diimbangi –karena berbagai alasan, akan menyebabkan efek yang tidak baik juga. Kenyataan ini akan menyebabkan nyali siswa di sekolah lain menjadi ciut, karena memikirkan selalu akan berada di bawah prestasi anak-anak sekolah unggul. Untuk masa depan, kesenjangan akan hadir.
Mengapa prestasi tidak bergeser juga ke kampung-kampung? Mudah-mudahan menjadi renungan semua pemangku kepentingan. Tentu, masalah pendidikan tidak hanya tanggung jawab Pemerintah, namun proses dalam pengambilan kebijakan dalam konteks ini, akan sangat mempengaruhi perkembangan kemajuan pendidikan di masa depan. Namun jika penguasa berlepas diri, justru akan kontraproduktif bagi pendidikan itu sendiri.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.