Simpang lampu lalu lintas, mau di kota atau di luar kota, jamak terlihat orang-orang yang meminta-minta. Dengan kotak atau botol kosong di tangan, ia sodorkan kepada setiap pengendara. Banyak orang menyebut mereka sebagai pengemis.
Hal yang selalu muncul di benak ketika melihat pengemis, adalah pertanyaan, yang mana sebenarnya yang disebut pengemis itu. Apakah yang disebut pengemis adalah mereka yang berdiri di persimpangan jalan sambil mendekati setiap kendaraan yang berhenti di traffic light dengan menengedah tangan? Mereka yang secara bergiliran masuk warung kopi, sebagaimana ketika sedang minum kopi ada yang juga menengedah tangan? Atau ada yang di luar itu?
Pada dasarnya, bila melihat rumusan bahasa, pengemis itu adalah orang yang meminta-minta, yang mengemis. Mereka yang melakukan emis itu, adalah mereka yang meminta-minta sedekah. Cara yang digunakan dalam meminta adalah dengan merendah-rendah dan dengan penuh harapan akan diberikan apa yang diminta.
Seandainya pengemis itu terkait dengan meminta-minta sedekah, maka sungguh tidak semua orang bisa masuk dalam kategori mengemis. Sebab yang dimaksudkan dengan sedekah adalah pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya (di luar yang wajib seperti zakat) yang diberikan menurut kemampuan pemberi. Sifat pemberiannya derma, atas dasar kemurahan hati, baik bantuan uang maupun bantuan jenis yang lain.
Dengan demikian, tidak semua peminta-minta juga sepadan dengan pengemis, terutama bila pemberian tidak berdasar kemurahan hati. Orang yang tidak mau seribu, hanya mau lima ribu, itu juga bukan pengemis. Sebaliknya, walaupun meminta dengan merendah-rendah dengan rasa iba, sementara kadar kebutuhan hidup sudah terpenuhi, itu juga tidak termasuk kategori mengemis.
Bisa dibayangkan ketika pengemis, ditemui paspor dan dollar. Entah apa yang di pikiran ketika mengetahui ada pengemis yang ditangkap memiliki puluhan juta. Atau memiliki rumah dan kendaraan di kampungnya. Bisa muncul berbagai tanggapan.
Kita bisa melihat beberapa kliping yang menggambarkan semua kondisi di atas. Suatu kondisi yang mungkin akan berimplikasi kepada orang-orang kecil yang mengharap iba dari mengemis.
Makanya saya ingin sekali memberikan pendapat yang barangkali lebih luas dari konsep di atas. Pengemis tidak mungkin dibatasi pada strata kehidupan tertentu–level terendah dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Sikap mengemis, bisa dilakukan oleh siapa saja, walau tidak dimaksudkan untuk menjadi pengemis. Orang-orang yang menengedah tangan dengan cara yang lain, semisal mengejar proyek tertentu, dasarnya juga mengemis. Orang yang mengiba-iba dengan merendahkan diri agar mendapatkan fasilitas dan jabatan tertentu, bisa jadi mungkin masuk dalam kategori ini.
Jadi, tidak terbatas pada orang yang kita lihat di bawah traffic light. Tidak terbatas pada orang yang datang meminta sedekah ketika kita sedang duduk di warung kopi. Tidak terbatas pada mereka yang duduk di pinggir jalan memperlihatkan kondisi fisik tubuhnya yang berkekurangan untuk mengharapkan orang lain membantunya.
Tidak sebatas itu.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.