Ada satu pepatah lama menyebut, bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Bagaimana cara orang berbahasa, bertutur kata, pada dasarnya menunjukkan bagaimana keadaan kepribadian bangsa pada saat itu
Bahasa yang santun bukan hanya enak didengar, melainkan telah berusaha memberi kenyamanan pada orang-orang sekitar. Dengan menggunakan bahasa yang buruk, implikasinya sangat jauh. Tidak ada lagi pertimbangan untuk menjaga bagaimana perasaan orang-orang dekat yang ada di sekitarnya.
Bahasa yang buruk muncul melalui penggunaan kata-kata kasar dan kotor. Istilah yang seharusnya jangankan untuk manusia, untuk makhluk lain pun tidak layak digunakan. Orang-orang yang menjaga perasaan orang lain, pada akhirnya akan berimbas kepada dirinya dalam konteks orang lain juga akan menjaga perasaannya.
Kata-kata yang digunakan bisa memicu perdamaian atau permusuhan. Orang yang tidak bisa menahan diri untuk menggunakan kata kasar kepada orang lain, akan menimbulkan benih permusuhan secara terbatas. Lalu ia melebar kepada orang-orang yang lebih banyak. Dan seterusnya. Semua hal besar dan serius, tidak terlepas dari hal yang kecil.
Adakah yang lebih tinggi nilainya dari kesantunan? Maka gunakanlah bahasa yang indah dan santun. Jangan gunakan bahasa kotor dan seenaknya. Ingat saya suatu malam ketika mau pulang ke kampung dengan minibus L-300, merasakan hal yang tidak mengenakkan. Kami dijemput mobil L-300 selepas magrib. Masalahnya, mobil juga menjemput penumpang lain. Kami dijemput yang kedua. Di dalam mobil sudah ada satu penumpang. Sehabis itu, dijemput penumpang lain yang tersebar di penjuru kota.
Malam itu, seperti berkeliling dari satu kampung ke kampung lain. Hampir satu jam dalam mobil, sebelum akhirnya ada satu penumpang terakhir di jemput di delta deretan cafe. Satu perempuan muda, dijemput di depan sebuah cafe, dan ia pulang satu arah dengan kampung kami.
Dugaan saya, di samping mahasiswa, anak ini juga sebagai pekerja di cafe itu. Dugaan saya itu karena dalam pembicaraannya, ia menyebut-nyebut tentang jadwal kerja sekaligus mengenai tugas kuliah.
Sejak dari awal naik ke mobil, sepanjang jalan ia ngobrol entah dengan siapa lewat handphone-nya. Dengan perjalanan selama dua jam, mungkin satu setengah jam ia gunakan untuk berbicara. Itu pun berhenti berbicara setelah ia ditegur.
Masalahnya bukan tidak boleh berbicara. Orang ini sepanjang berbicara menggunakan (maaf) kata-kata yang hanya layak di toilet. Bahasa demikian yang disebut orang sebagai bahasa toilet. Sepanjang jalan ia dengan bersuka ria menggunakan kata-kata (maaf) seperti pantat, tahi, babi, anjing, dan semacamnya.
Saya dan istri sangat heran karena temannya bicara di handphone, sepertinya juga merasa nyaman dengan kata-kata begitu. Ia seperti tidak bermasalah dengan sejumlah kata toilet. Hal lain yang membuat tidak nyaman adalah adanya anak-anak dalam mobil yang kami tumpangi. Saya tidak bisa membayangkan apa yang ditangkap oleh pendengaran anak-anak yang mendengar pembicaraan selama lebih satu jam yang kata-kata terbanyak di dalam pembicaraannya menggunaan kata-kata dari toilet.
Karena saya memiliki nomor handphone sopir mobil tersebut, dan penumpang itu duduk di samping sopir, kepada sopir saya kirim pesan pendek. Saya tanya ke sopir apa ia nyaman dengan kata-kata penumpangnya. Si sopir tidak menjawab pesan pendek saya. Tetapi kepada si penumpang itu, akhirnya ia basa-basi. Saya ingat persis pertanyaan sang sopir kepada penumpang itu: “kamu anak pertama ya?”
Mungkin karena kaget, si penumpang memutuskan pembicaraan telepon dan menanyakan maksud sang sopir. Kata si sopir sederhana: “kalau kamu anak kedua atau seterusnya, kamu pasti tidak mungkin berbicara dengan kata-kata begitu. Karena kamu anak pertama, jadi mungkin tidak ada yang tegur”.
Ia melihat ke belakang, secara kebetulan, semua mata tertuju padanya. Mungkin karena sopir mengenal penumpangnya, ia bertanya seperti tidak serius. Namun pandangan penumpang lain ke wajahnya tidak berarti ia bisa menangkap maksudnya.
Saya berharap anak-anak yang berbahasa demikian bisa dihitung jari. Pun demikian, perlu bagi orang lain untuk menasihati orang yang sering menggunakan kata-kata toilet. Tidak sepantasnya kata-kata begitu dikeluarkan, apalagi dengan teman-temannya. Generasi hebat tidak akan muncul dari bahasa toilet.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.