Perasaan Terjajah

Perasaan dan terjajah, pada dasarnya dua hal yang berbeda. Mereka yang dijajah, belum tentu merasa terjajah. Terutama untuk mereka yang sudah terlalu lama dijajah, jangan-jangan sudah tidak terpikir lagi bahwa mereka sesungguhnya sedang terjajah. Sebaliknya, …

Perasaan dan terjajah, pada dasarnya dua hal yang berbeda. Mereka yang dijajah, belum tentu merasa terjajah. Terutama untuk mereka yang sudah terlalu lama dijajah, jangan-jangan sudah tidak terpikir lagi bahwa mereka sesungguhnya sedang terjajah. Sebaliknya, mereka yang sedang merdeka, tidak sedang dijajah, bisa saja merasakan sebaliknya: perasaan terjajah.

Era modern, perasaan dan terjajah ini kerap diulang-ulang. Menyebut terjajah untuk mereka yang tidak bisa berpikir merdeka. Jadi kondisi ini bisa saja dirasakan dalam kehidupan modern atau pascamodern selama ini. Pada masa lalu, perasaan terjajah selalu disepadankan dengan kata pribumi. Atau oleh generasi lama, kerap disebut dengan istilah “inlander”.

Pada era kolonial, istilah “inlander” sengaja dimunculkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, inlander diartikan sebagai “sebutan ejekan bagi penduduk asli di Indonesia oleh orang Belanda pada masa penjajahan Belanda”. Istilah lain adalah “pribumi”. Ketika berbicara pemunculan yang ditangkap melalui pemaknaan dengan ejekan, implikasinya tentu ke psikologis atau mentalitas. Orang-orang yang disebut sebagai inlander itu, selalu ditumbuk mentalnya agar tidak bisa bangkit. Secara internal, seseorang yang sedang berusaha bangun, selalu berpikir tentang kemungkinan kekurangan diri, dengan mengukur dengan kepentingan dari mereka yang membuat istilah ini. Secara eksternal, perasaan ingin selalu mendapat perhatian, terutama dari para mereka yang merasa sebagai tuannya.

Menilik dalam perkembangan hukum ke belakang, terutama masa kolonial, istilah ini muncul dalam undang-undang 1854. Waktu itu, pemerintah kolonial menyamakan beragam kelompok penduduk asli di nusantara. Regerings Reglement. Tiga golongan yang dibedakan: Eropa, Indonesia, dan Timur Asing. Indonesia disebut juga dengan bumi putera. Tentu sebutan ini tidak sederhana, ketika mereka yang merasa sebagai penjajah, harus memisahkan diri dari mereka yang pribumi. Pada masa penjajahan, selalu ada sejumlah pribumi yang mendekatkan diri. Kepentingannya berbagai macam. Biasanya merasa lebih nyaman dari segi keamanan. Kemapanan ekonomi menjadi semakin terasa. Hal yang lebih penting, dan ini sering dilakukan, ketika orang yang merasa dekat dengan penjajah, bisa membentak-bentak orang yang asli.

Bagi penjajah, golongan yang berkhianat semacam itu disebut sebagai teman baik. Sedangkan bagi bangsa sendiri, mereka yang jelas-jelas menggunakan perasaan inlandernya, bersekutu dengan asing, untuk mengambil untung dari bangsa sendiri, adalah potret dari pengkhianatan. Ada tiga tingkat pengkhianatan yang telah disebutkan: mencari selamat, menumpuk kekayaan, dan kesempatan untuk menakut-nakuti anak bangsa. Maka tidak mengherankan, mereka yang berposisi ini memiliki ruang lebih untuk menentukan kebijakan khusus bagi pribumi. Inlander. Tidak bagi golongan lain. Namun kebijakan tersebut, juga tidak lepas dari tiga keuntungan yang akan diperolehnya tersebut.

Itulah yang terjadi pada masa kolonial untuk membelenggu sikap dan mental mereka yang dijajah. Dapat dipahami bahwa cara demikian, sedikit banyak akan berpengaruh pada bagaimana orang-orang selalu merasa dirinya sebagai bangsa terjajah. Padahal mereka, selain menjajah, target terbesar yang ingin diraih adalah kekayaan alam, yang memang cukup makmur dalam bangsa kita. Tidak semua sadar target besar ini. Orang-orang yang bersekutu dan mendapatkan secuil untung, bahkan mereka tidak ingat. Siapa yang ingat akan penderitaan demikian? Merekalah orang-orang yang bertaruh nyawa terjun ke medan perang, untuk memberontak melawan penjajah.

Para pahlawan, anak bangsa, melawan penjajah tidak semata ingin membebaskan diri dari kungkungan teritori dari kolonial, melainkan melepas cengkeraman nyata atas penguasaan sumber daya alam yang diincar. Selain itu, hal yang tidak kalah berat telah dilakukan para pejuang bangsa adalah dengan melepaskan pengaruh kolonial dalam diri kita. Termasuk membebas belenggu mentalitas sebagai inlander. Mentalitas ini bukan dengan kata, melainkan dengan jiwa-raja. Tidak ada arti berkata, bila dalam kenyataan, sebagai inlander selalu dalam jiwa kita.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment