Malam ini, saya menguatkan diri untuk melihat dua video di lokasi berbeda, terkait penyiksaan anak. Tentu, dua kejadian ini, akan menimbulkan ketidakpercayaan, di satu sisi, dan pada soal tidak ada pilihan, di sisi yang lain. Soal tidak percaya, para pengelola penitipan anak yang lain, meminta publik untuk tidak mengeneralisir apa yang terjadi pada dua itu sebagai perilaku semua tempat penitipan anak. Namun kesangsian orang bisa saja dipahami. Kejadian semacam ini bisa menjadi semacam fenomena gunung es. Yang belum terungkap jauh lebih besar dari yang sudah terungkap. Mudah-mudahan tidak demikian.
Soal bagaimana orang tua tidak ada pilihan, mengingat ayah dan ibu anak memiliki aktivitas masing-masing. Dengan kesibukan itu, maka tidak ada pilihan lain selain menitip anak. Para pendidik sering berseloro, dengan menyebut, betapa orang tua lebih mengejar untuk mencari lebih dibandingkan menjaga, merawat, dan mendidik anak dengan baik. Harusnya salah satu saja orang tua yang bekerja, yang lainnya menjaga keluarganya. Namun ada catatan bahwa dunia sekarang, dalam satu keluarga pun penuh dengan kesangsian. Orang-orang menganggap dirinya harus mandiri, kalau-kalau nanti terjadi sesuatu dalam keluarga.
Dalam kondisi itulah, bisnis penitipan anak itu muncul. Sebuah “bisnis” yang hakikatnya sangat mulia, sekaligus dari segi transaksi juga akan sangat menjanjikan. Tempat-tempat penitipan yang menyediakan banyak fasilitas, pasti akan dibarengi dengan tingkat kemampuan orang tua menunaikan ujrah yang mampu dibayarkan. Bagi orang tua yang mendapatkan tempat yang bertanggung jawab, biasanya tidak masalah berapa pun yang harus mereka bayar.
Pada posisi ini, sesungguhnya orang sedang berbisnis dengan kepentingan manusia. Mereka yang memiliki aktivitas penting, menitip anaknya di tempat yang khusus menerima jasa titipan anak. Untuk aktivitas itu, mereka akan diganti dengan sejumlah bayaran. Catatan penting bahwa yang dititip adalah anak manusia, bukan yang lain semisal mesin dan semacamnya. Karena yang dititip adalah anak manusia, maka tempat yang dititip harus memperlakukannya sebagai anak manusia. Masalahnya, tentu saja pada realitas ada saja tempat penitipan yang tidak manusiawi. Jika ada kejadian pahit, pengelola yang progresif pasti akan mengambil tindakan tegas. Untuk urusan tidak memperlakukan manusia sebagai manusia, memang harus diperlakukan secara tegas.
Saya kira jika ditemukan ada tempat penitipan yang tidak melayani anak-anak dengan baik –sebagaimana tempat penitipan yang harusnya memperlakukan setiap orang secara manusiawi—maka tempat seperti itu jangan diberi izin. Pemerintah ada peran di sini. Harus diingat bagaimana bisa di tempat seperti itu, tersedia para pekerja yang berjiwa serigala. Berarti mereka hanya mengejar uang, dengan abai terhadap tugas dan fungsinya. Hal yang lebih mengerikan, ketika semua mereka sama-sama melakukan hal yang mengerikan bagi anak-anak yang dititip di tempat mereka.
Ketika kejadikan, ada pengelola yang melapor ke penegak hukum. Tetapi ada juga yang menutupi dengan berbagai cara. Saya respek terhadap pengelola yang mengambil langkah cepat saat ada kejadian buruk.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.