Saya kira regulasi dan cara kita memahami konsep bagaimana kekerasan seksual, sudah berubah dan berkembang sedemikian rupa. Tidak seperti dua atau tiga dekade yang lalu, dalam melihat kekerasan seksual dengan bentuk yang masih sangat “manual”. Perkembangan ini, tidak terlepas dari upaya untuk menghormati manusia dengan baik. Bagaimana cara pandang terhadap sesuatu, tidak bisa dilepaskan dari keinginan untuk memperlakukan orang lain dengan baik dalam kehidupan ini.
Masalahnya dalam realitas, yang terjadi kadang-kadang sebaliknya. Ternyata perkembangan yang terjadi dalam ranah konsep, tidak selalu jalan dalam realitas. Dalam ruang sosial, berbagai bentuk kekerasan seksual justru terjadi. Kasus-kasus kekerasan seksual, ternyata secara kuantitas maupun kualitasnya, tidak bisa dipandang sebelah mata. Harus sudah memberi perhatian yang sangat serius.
Jika berangkat dari statistik, angka kekerasan seksual juga terus berkembang. Kuantitas selalu meningkat, dan pada masa depan diprediksi juga terus meningkat. Selain itu, soal kualitas, juga bukan perkara main-main. Pola kekerasan seksual yang dilakukan, nyatanya terus berkembang dan semakin mencengangkan dari waktu ke waktu. Ada kalanya kita tidak duga banyak hal yang terjadi melewati akal sehat kita. Ketika mendengar kasus, kita kerap tidak percaya bahwa itu terjadi dalam ruang-ruang sosial sekitar kita.
Ada dua bentuk yang semakin menyedihkan. Pertama, pelaku kekerasan seksual semakin menggejala dilakukan secara kolektif. Tak peduli korban itu masih remaja atau anak-anak. Pelaku sering lebih dari satu orang –bahkan yang menyesakkan, sejumlah kasus yang muncul dilakukan oleh orang-orang yang dekat. Kita pernah membaca ada kasus 21 orang melakukan perkosaan terhadap seorang anak sekolah dasar. Sama menyesakkan, ketika 14 remaja dan pemuda yang sebelumnya mengonsumsi minuman keras memerkosa remaja sekolah menengah pertama. Lebih ironis, ternyata dari sekian pelaku, juga ada yang masih anak-anak di bawah umur.
Kedua, ada sejumlah kejadian yang berakhir dengan sangat mengerikan, yang mana pelaku membunuh korbannya. Bentuk kejahatan yang akhirnya bertambah, tidak sekedar perkosaan, juga turut membunuh. Posisi terakhir ini, penyebab juga terbelah. Ada yang memang direncanakan dari awal untuk membunuh korban. Akan tetapi dalam kasus terbatas, ada yang pembunuhan terjadi karena korban yang berusaha melawan.
Dua bentuk itu yang terungkap melalui media massa. Sementara pada saat yang sama, apa yang terungkap diyakini hanya puncak gunung es. Ada kemungkinan yang belum terungkap itu merupakan bagian besar yang masih tersisa. Kemungkinan ini masuk akal, kalau menjadikan berita media massa sebagai salah satu sumbernya. Setiap hari berita tentang kekerasan seksual selalu ada. Berbagai tayangan kriminal di televisi, juga mendukung kenyataan demikian.
Entah langkah empiris apa yang sedang kita susun untuk menjawab problem serius ini. Jangan katakan bahwa kita belum melakukan apa-apa!
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.