Menelusuri Informasi Gaya Selingkung

Suatu referensi, pasti berisi informasi terkait dengan siapa yang menulis karya, apa judulnya, kapan diterbitkan atau publikasi, dimana diterbitkan dan oleh siapa. Semua informasi ini wajib ada, dalam gaya selingkung apapun. Gaya selingkung pada dasarnya …

Suatu referensi, pasti berisi informasi terkait dengan siapa yang menulis karya, apa judulnya, kapan diterbitkan atau publikasi, dimana diterbitkan dan oleh siapa. Semua informasi ini wajib ada, dalam gaya selingkung apapun. Gaya selingkung pada dasarnya sebagai gaya dalam tata cara penulisan (termasuk di dalamnya mengenai ejaan dan format yang digunakan penerbit tertentu). Disebut selingkung karena mewakili dari apa yang dipegang masing-masing mereka (buku, jurnal, majalan, dan lain-lain). Tujuannya tidak lain adalah mencapai keseragaman teknis penulisan yang dipegang secara konsisten.

Sekarang banyak jurnal yang menyiapkan gaya selingkung ini dengan detail. Sejumlah jurnal internasional bereputasi, memiliki panduan penulisan hingga 50 halaman, untuk jumalh artikel riset yang dipublikasi mereka sekitar 5.000-6.500 kata (sekitar 8-12 halaman ukuran kuarto spasi 1,5). Saya bahkan menyebut panduan jauh lebih panjang dibandingkan substansi sebagai isi jurnal. Jika ditelusuri, mereka sudah menyediakan panduan dengan sangat detail hingga ke hal-hal yang sangat teknis. Dengan gaya masing-masing, akan menentukan termasuk struktur artikel yang diterima oleh mereka.

Para penulis artikel yang akan mengirimkan karyanya ke jurnal tertentu, tidak boleh menganggap sederhana bahkan remeh urusan panduan ini. Apalagi jurnal yang sudah dipandu dengan software tertentu. Dalam banyak hal, apa yang mau disubmit lebih banyak dikerjakan mesin dibandingkan oleh manusia. Jurnal pada situasi demikian, tidak perlu memastikan hal-hal teknisnya. Bahkan untuk urusan menerima atau menolak suatu artikel yang layak secara teknis, bisa ditentukan oleh pembacaan mesin. Misalnya judul yang dikirimkan tidak dalam range jumlah kata yang ditentukan. Demikian juga abstrak, dan seterusnya.

Tata cara penulisan referensi pun tidak perlu lagi dilakukan secara manual. Gaya penulisan sudah tersedia, dengan berbagai alat kerja yang lengkap. Misalnya, selama ini dikenal sejumlah gaya penulisan referensi yang juga tersedia sistemik, seperti gaya Turabian, Harvard, Chicago, APA, dan MLA. Yang disebut terakhir, American Psychological Association (APA), sebagai standar penulisan kutipan dan daftar pustaka yang umum digunakan, terutama dalam bidang sosial, psikologi, dan pendidikan. Sedangkan Modern Language Association (MLA) sering digunakan dalam bidang bahasa, sastra, dan humaniora.Jika APA pada penulis dan waktu, MLA lebih pada penggunaan nama penulis dan norma halaman dalam teks. Kini membantu dalam membuat referensi tersebut, muncul pula sejumlah aplikasi referensi dengan cara bekerja yang berbeda-beda, misalnya mendeley, Zotero, endnote, dan sebagainya.

Dengan apa yang semakin kompetitif tersedia, pelajaran bagi kita sebagai umat manusia betapa kita semakin dimudahkan untuk menghargai karya orang lain. Apa yang sudah menjadi karya orang, harus diperlakukan dengan baik ketika bagiannya ingin kita rujuk dalam karya-karya kita.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment