Satu pertanyaan penting, termasuk ketika mahasiswa mengajukan judul tesis, adalah apa yang berbeda dengan karya orang lain. Sebagai pembimbing, prosesnya bisa jadi lebih dalam. Saya diberi amanah mengelola magister. Hal pertama yang saya lakukan terkait tugas akhir adalah sesegera mungkin mahasiswa mengajukan judul ke program studi setelah mereka lulus mata kuliah Metodologi Penelitian Hukum. Syarat satu-satunya untuk bisa mengajukan judul tesis hanya itu. Tidak ada yang lain. Lalu dalam judul itu, sudah disertakan sedikit latar belakang, identifikasi masalah yang akan diteliti, dan kajian awal tentang kebaruan.
Ketika mahasiswa mengajukan judul, pasti sudah berfikir tentang kebaruan itu. Nah, kebaruan itu tak mungkin bisa ditemukan tanpa proses state of the art dengan literature review. Sayangnya, proses ini sedang tidak berjalan maksimal. Sejumlah tahapan akademik, sangat memberi kemudahan kepada mahasiswa. Bukan tidak boleh ada kemudahan. Catatannya adalah pada kemauan untuk berproses dengan maksimal, yang selama ini jadi kendala.
Setiap evaluasi yang kami lakukan, dosen mengeluh tentang itu. Soal tidak mau berproses dengan maksimal. Keluhan ini pula saya sampaikan kepada mahasiswa –selama ini kami juga melakukan evaluasi sekaligus refleksi minimal setahun sekali dengan mahasiswa. Mereka menyadari keadaan ini. Mahasiswa yang mau berproses, jumlahnya sedikit. Mahasiswa yang berproses, bisanya pendidikan jauh lebih tertib. Hal terpenting, mereka bisa menghasilkan publikasi artikel ilmiah pada jurnal yang berkualitas baik. Selama ini, sebagian besar, juga jurnal-jurnal yang nyaris tanpa review. Jurnal yang begitu dikirim artikel, lalu mereka meminta ditransfer sejumlah uang, besoknya artikel sudah publish. Umumnya ada di Asia selatan.
Dalam setiap kesempatan, saya ingatkan tentang berproses itu. Termasuk dalam tugas akhir, memastikan ada yang berbeda dari karya sebelumnya. Menurut saya, begitulah harusnya proses pengajuan judul untuk tugas akhir –termasuk syarat publikasi artikel ilmiah. Ketika mengajukan judul tertentu, selalu pertanyaan awal adalah apa yang membedakan dari orang lain, sesuatu yang tidak boleh ditawar-tawar. Apakah sudah ada karya serupa yang ditulis orang lain sebelumnya? Jika sudah ada, bagaimana nanti akan membedakan fokusnya? Dan orang yang mampu menjawab adalah mereka yang sudah membaca karya orang lain tersebut. Tidak sedikit pula ada fokus yang memang berbeda. Ada semangat tema yang sama, namun terbagi dalam pembidangan masing-masing. Memungkinkan juga seseorang menemukan sesuatu yang baru, karena menemukan sesuatu yang salah dari orang lain. Kondisi yang terakhir ini, juga ditemukan dari proses pembacaan.
Saya berharap semua orang serius dalam menyelesaikan karya ilmiah. Namanya saja karya ilmiah, harusnya benar-benar dilaksanakan dengan rumus-rumus ilmiah. Tetapi bukanlah tanpa kendala. Sebagian mahasiswa menyaksikan ada perilaku tidak etis dilakukan orang-orang penting di negeri ini. Mereka punya kuasa, lalu kuliah magister atau doktoral, dengan proses yang nyaris abal-abal. Tapi itu di lembaga pendidikan negeri. Bahkan kampus elite.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.