Hubungan kebaruan dan literature review, sudah pernah saya jelaskan dalam kolom saya. Kali ini, saya ingin menjelaskan sedikit berbeda. Rumusnya sangat sederhana. Kebaruan yang tinggi bisa didapat dari proses literature review yang baik. Tetapi bukan literature review yang sebagian orang menganggap seperti kajian pustaka biasa. Sejumlah mahasiswa yang menulis tugas akhir, saya tanya apa yang mereka pahami sebagai literature review, bagi mereka sekedar mencari referensi terkait dan mengulas sesuai dengan tema yang dibahas.
Saya katakan kepada mahasiswa di kelas saya, bahwa literature review tidak sesederhana itu. Membaca literatur harus kritis dan menggunakan nalar yang dimiliki. Setiap bahan yang dibaca harus selalu muncul tanda tanya.
Proses sederhana ini tidak dilakukan semua orang. Padahal ia akan menuntun seseorang untuk menemukan kebaruan yang sangat penting dalam berkarya. Bukankah dengan penjelasan demikian, tergambar betapa pentingnya proses dalam mencapai kebaruan itu?
Kebaruan ini bisa diukur paling tidak pada tiga hal. Pertama, ide itu sebagai sesuatu yang masih segar. Ide ini kita bisa uji dengan menelusuri sejumlah hal yang serupa pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Dengan melakukan literature review, memungkinkan kita menemukan betapa dalam suatu hal sudah dibahas oleh orang lain. Dengan posisi demikian, maka kita bisa mengambil pada posisi apa kita akan bahas hal tersebut untuk mendapatkan kebaruan yang berbeda dari sebelumnya.
Kedua, proses dilakukan sesuatu yang berbeda. Peta jalan yang sudah didapatkan tidak mungkin dengan jalan yang sama. Seorang penulis harus menelusuri dan menggunakan jalan yang berbeda. Dengan mendapatkan ruang yang berbeda, lalu menggunakan jalan yang berbeda, akan memperbesar peluang untuk mendapatkan kebaruan yang berbeda pula.
Ketiga, hasil yang didapatkan akan berbeda dari orang sebelumnya. Otomatis ketika penelusuran dilakukan untuk mendapatkan apa yang berbeda, lalu menggunakan jalan yang berbeda dari orang sebelumnya, berkemungkinan hasil pun akan berbeda. Sesuatu yang memiliki hasil yang sama, maka kebaruan juga akan dipertanyakan.
Dengan tiga hal di atas, posisi kebaruan dalam setiap tulisan kita selalu diuji. Orang yang tidak berhasil melewati dan mendapatkan kebaruan, maka yang bersangkutan berpotensi bahkan untuk diposisikan pada tempat yang tidak terbayangkan. Makanya jangan menganggap sederhana masalah kebaruan tersebut dalam sebuah karya. Apalagi dalam kompetisi keilmuan secara global, justru kebaruanlah yang menjadi sesuatu yang penting.
Justru saat menggarap tugas akhir, mahasiswa kita tidak berjuang maksimal untuk mencapai titik ini. Padahal dampaknya sangat nyata. Semakin baik bisa dilakukan proses ini, akan membawa mereka ke posisi terhormat dalam berkarya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.