Saya mendapatkan pengetahuan ini dari guru saat kuliah sarjana. Dua puluh tahun yang lalu. Menurutnya, menghargai pikiran orang lain, dengan cara merujuk secara layak apabila ada pikirannya yang dikutip, Sampai saat ini saya masih ingat. Tidak akan membuat kita rendah ketika pikiran kita banyak terbantu dari merujuk orang lain.
Lebih jauh, barangkali kita memiliki pengalaman berhadapan dengan orang yang bijak, rendah hati, juga mereka yang sombong dan angkuh. Kita bisa membandingkan keduanya. Pengalaman saya sebagai peneliti, yang beberapa kali dijumpai peneliti dari daerah lain. Mereka ingin mendalami isu yang pernah kita garap. Dengan layak, mereka mengutip apa yang pernah kita teliti. Sebaliknya, orang-orang angkuh, tidak menganggap penting sesuatu yang sudah kita hasilkan. Mereka meneliti isu yang sama, seolah-olah berangkat dari proses yang mereka jalani sendiri.
Seorang peneliti yang rendah hati, selalu akan menyebutkan bahwa sebaru apapun temuannya, tetap ada potensi terbatas, dan butuh orang lain untuk menyempurnakan. Sementara mereka yang angkuh dan sombong, selalu menganggap temuannya sebagai rujukan satu-satunya. Tanpa kecuali. Posisi yang kedua ini, bisa ditemui dalam berbagai strata kehidupan. Dulu saya berpikir kesombongan itu hanya dimiliki oleh orang berada semata. Orang-orang yang secara ekonomi berlebih, secara politik berkuasa, maupun secara ilmu juga mapan. Ternyata tidak tentu. Ada orang yang kaya namunĀ kaya rasa dan hati terhadap sesama. Mereka yang berkuasa ada yang sangat dekat dengan rakyatnya. Atau mereka yang berilmu, seyogianya memang semacam padi yang semakin berisi akan terus menunduk.
Tipe orang yang sejuk itu selalu ditandai oleh kekayaan hati. Ada pengakuan bahwa setiap pemikiran atau temuan, didapat dengan proses yang tidak sempurna. Atas dasar itu, hasilnya pun tidak sempurna dan butuh orang lain untuk menyempurkannya kemudian hari. Orang bijak yang saya kenal, memperingatkan bahwa ketidaksempurnaan itulah yang seharusnya menjadi berkah bagi mereka yang akan mendalaminya. Dengan kondisi demikian, mutualisme dan saling mendapat manfaat tetap ada.
Tidak bisa dihindari juga, berbagai temuan itu didukung oleh temuan-temuan sebelumnya. Sesuatu yang baru ditemukan oleh seseorang, pada dasarnya berakar dari temuan orang lain dalam bentuk yang bisa saja berbeda. Temuan yang satu akan memberi inspirasi, kreasi, bahkan semangat bagi yang lain. Dengan inspirasi, orang jadi berpikir berbagai alternatif lain dari temuan orang sebelumnya. Pada saat yang sama, kreativitas yang dimiliki memungkinkan rumus-rumus lain terus dicoba. Inspirasi dan kreasi, ketika bertemu dengan semangat yang menyala, akan mempercepat capaian hasil. Tentu bukan saja hasil yang sempurna, tidak sedikit orang berhadapan dengan hasil sebaliknya, gagal. Hingga di sini, bukan suatu kebetulan ada ungkapan yang menyebutkan kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Mereka yang mendapatkan kegagalan, dengan kegigihan untuk selalu menyempurnakan, akan mempercepat pencapaian hasil yang lebih baik.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.