Bukan Korupsi Mini

Selama mengisi kelas menulis di sekolah-sekolah, saya mendapatkan informasi pada tingkat tertentu, order karya ilmiah sering terjadi. Guru yang mau naik peringkat, pangkat tertentu, wajib menyertakan karya ilmiah, dan ada oknum guru yang langsung main …

Selama mengisi kelas menulis di sekolah-sekolah, saya mendapatkan informasi pada tingkat tertentu, order karya ilmiah sering terjadi. Guru yang mau naik peringkat, pangkat tertentu, wajib menyertakan karya ilmiah, dan ada oknum guru yang langsung main order. Mereka yang bertugas di sekolah pinggiran, ongkosnya bisa 3-4 juta. Namun untuk sekolah-sekolah dekat pusat kekuasaan, ongkosnya bisa melonjak.

Apakah tidak ada guru yang berjuang sebaliknya? Saya kira juga banyak. Para guru yang memiliki kemampuan pas-pasan, namun berusaha sendiri. Membuat karya ilmiah sendiri. Termasuk jika membutuhkan pertanggungjawaban, mereka mati-matian mempersiapkan sendiri.

Mereka yang berjuang seperti ini, cara berpikirnya sangat sederhana. Mereka menggolongkan order karya ilmiah sebagai korup. Sebagian mereka menyebut sebagai korupsi mini. Menurut mereka, perilaku ini akan membuat hidup sepanjang hayat bermasalah. Setiap bulan mendapatkan upah, namun dari proses yang tidak jujur sejak awal. Bagi mereka, inilah alasan kesalahan yang ujungnya berantai.

Barangkali bisa dibayangkan dengan kasus tidak menyebut ada kutipan karya sendiri saja dikategorikan kejahatan etika, apalagi jika order karya dari orang lain. Implikasi lebih lanjut dari realitas demikian adalah pada kejujuran. Mengambil punya kita sendiri sekalipun, dengan tidak menyebutkan dalam sitasi, maka zaman sekarang hal itu juga bisa masuk dalam kategori tidak jujur. Apalagi untuk berbagai kepentingan pragmatis, misalnya untuk mengurus pangkat dan kepentingan angka kredit, suatu karya ketika tidak dirujuk sebagaimana mestinya, dapat saja digunakan berulangkali.

Saya tidak ingin berhenti pada sebatas guru. Mereka dianggap sebagian orang sebagai tidak mampu atau bahkan tidak cukup waktu. Masalahnya di perguruan tinggi pun, hal yang sama terjadi. Ketidakjujuran dalam karya ilmiah, juga terjadi di tempat membangun peradaban ini. Jadi bukan hanya di sekolah. Bukankah idealnya, kampus memiliki kapasitas pendidikan lebih tinggi, harusnya memiliki moralitas yang lebih tinggi pula? Ternyata tidak demikian. Tidak selalu kapasitas pendidikan selaras dengan kapasitas moralitas.

Berdasarkan gambaran tersebut, jelas terlihat bagaimana kaitan antara satu keadaan dengan keadaan lain. Hal yang satu tidak diperhatikan, akan berimplikasi kepada hal lain. Ketika sudah berada dalam gurita demikian, seorang akademisi tidak mungkin memberi alasan karena ketidaktahuan. Pengetahuan semacam ini dianggap berada pada tingkat yang dasar, dan seyogianya semua orang-orang di kampus sudah memahaminya.

Sungguh tidak boleh dianggap sederhana keharusan ini. Perilaku jujur mencerminkan mentalitas, moralitas, sekaligus semangat bagaimana ilmu pengetahuan menjadi cara hidup. Jika tidak, maka pendidikan tidak bermakna dalam ruang adab.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment