Sering saya buat status dari gunung Seulawah yang terlihat indah seiring keluar sinar pagi. Saya sering mengklaim, seolah-olah hanya waktu pagi saja Seulawah itu indah dipotret. Menurut kita, bisa jadi begitu. Tetapi ingatlah, orang lain bisa memiliki cara pandang yang berbeda. Bisa saja ada yang menganggap pagi itu indah, tetapi objek yang mereka garap berbeda dari yang kita dapatkan. Apalagi mereka yang berpikir, melihat objek tidak dipagi, tapi pada waktu yang lain.
Begitulah jika kita ingin membandingkan apa yang kita lihat dengan apa yang ada pada orang lain. Cara orang berpikir sesuatu, belum tentu sama dengan bagaimana cara memikirkan hal yang sama. Dalam riset, perbedaan itu sebagai sesuatu yang biasa. Makanya dalam konsep riset, menentukan cara pandang pada rencana awal, sangat penting untuk menentukan apakah sama atau tidak dengan cara pandang orang lain.
Penentuan cara pandang, nantinya akan terkait dengan fokus dan isu. Penentuannya bisa dilakukan melalui membahas secara kritis apa yang sudah dilakukan orang lain. Dalam setiap kajian, terutama dalam tahap mempertajam fokus, kajian yang pernah dilakukan orang lain menjadi sangat penting.
Saya ingin menegaskan bukan pada lasan tema dan fokus yang sama. Makanya harus dilihat secara kritis. Harus didalami apa yang sudah pernah ditulis orang lain. Tidak mungkin membandingkan apa yang sudah dituliskan orang lain, sementara kita tidak baca tuntas karya mereka.
Seperti seorang pemotret yang memandang keindahan menurut versinya yang bisa berbeda dengan pemotret lain. Sehingga dengan berbagai pengalaman dan kajian sebelumnya, akan memberi peta jalan lebih dalam untuk menemukan temuan yang baru itu. Bukankah kondisi saling memberi dan menerima itu tercermin dari peta jalan ini? Peta jalan yang saya maksudkan, proses penelusuran untuk menentukan titik-titik berbeda dari orang lain.
Orang yang melakukan kajian dan menemukan sesuatu yang baru, tidak mengabaikan ada sesuatu yang dilakukan oleh orang sebelumnya. Demikian juga ketika temuan yang baru itu, oleh orang selanjutnya akan dijadikan peta jalan untuk menemukan sesuatu yang lebih baru. Makanya orang-orang yang bijak dapat melihat kondisi kesalingan itu tidak hanya dengan mata kepala, melainkan juga dengan mata hati. Ada rasa dari dalam jiwa yang turut digunakan, sehingga memungkinkan tidak timbulnya klaim peran yang terbeda dari banyak rangkaian orang lain. Dalam dunia yang tidak hampa, selalu memungkinkan adanya saling koneksi dan menangguk keuntungan atas koneksi tersebut.
Saya memandang begitu untuk titik pandang. Tidak boleh dianggap sederhana. Jalan ini sangat penting, bahkan bisa jadi keindahan akan ditemukan pada objek yang sama, namun dari angle yang berbeda. Kita duduk di tempat yang sama, menggunakan kamera yang sama, namun dengan angle yang berbeda, akan didapat hasil yang juga berbeda dari orang lain.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.