Dunia yang Semakin Penuh Ketidakjujuran

Jasa penulisan karya ilmiah, bukan hanya tersedia di kota-kota besar. Sejumlah pinggir kampus-kampus besar di negara kita, jamak terlihat iklan mini yang menawarkan jasa untuk produksi karya ilmiah ini. Dalam konteks penyediaan jasa, mereka bersembunyi …

Jasa penulisan karya ilmiah, bukan hanya tersedia di kota-kota besar. Sejumlah pinggir kampus-kampus besar di negara kita, jamak terlihat iklan mini yang menawarkan jasa untuk produksi karya ilmiah ini. Dalam konteks penyediaan jasa, mereka bersembunyi di balik kata konsultasi atau jasa analisis. Tidak mungkin saya pungkiri, ada sebagian yang benar. Lebih banyak, hal sebenarnya yang ditawarkan adalah jasa pembuatan karya ilmiah. Pemberi order akan menerima lengkap karya ilmiah yang dibutuhkan, tentu setelah membayar sejumlah upah –konsep ini menjadi meragukan karena dilakukan untuk hal-hal yang tidak halal. Saya sengaja menyebut konteks halal atau tidaknya terkait upah, untuk menyebut perilaku ini bukan sesuatu yang bisa dimaafkan.

Ada lembaga pendidikan yang terang-terangan melakukan hal ini. Seseorang yang kuliah di tempat tertentu, pada semester-semester akhir meminta uang lebih kepada orang tuanya dengan alasan dibuatkan tugas akhir. Apalagi dalam kalangan tertentu juga timbuk kesan, bahwa akan sulit bisa selesai kuliah jika tugas akhirnya tidak disiapkan oleh jasa tertentu. Seperti lawak, yang kadang kala di dalam ujian, terlihat seolah-olah yang memiliki jasa yang banyak pertanyaan. Bisa dibayangkan, ketika lembaga pendidikan sudah seperti itu, bagaimana berharap pada institusi yang lain.

Cerita dari mulut ke mulut juga berkembang soal mereka yang naik pangkat fungsional yang lebih tinggi dan mensyaratkan karya ilmiah, biasanya disiapkan oleh satu tim khusus. Tim ini yang menjajaki siapa saja yang sudah sampai waktunya untuk naik pangkat. Lalu dihubungi dan ditawarkan jasanya. Dengan jumlah bayaran tertentu, akan dibagi tergantung dari jumlah orang yang terlibat di dalamnya. Uang semacam ini, dari cerita mulut ke mulut itu, disebut sebagai pendapatan lebih bagi mereka yang memang sudah mendapatkan gaji setiap awal bulan. Proses ini terus berlangsung dan sepertinya diketahui oleh mereka yang lain. Tahu sama tahu. Proses yang buruk dan penuh manipulatif, tapi sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja.

Tanpa menyebut sumber untuk sebaris kutipan saja bisa dianggap bermasalah, dalam konteks plagiat, konon satu karya disiapkan oleh orang lain. Apalagi melakukan publikasi atau penulisan ulang dari karya yang pernah ditulis sebelumnya –konteks autoplagiat yang sepertinya juga bukan sesuatu yang digelisahkan. Tidak mungkin berharap ada sanksi untuk proses yang sudah masif semacam ini. Di lingkungan lembaga pendidikan sudah ada kebijakan untuk pencegahan dan penanggulangan plagiat. Di lapangan, proses jalan belakang itu terus berlangsung, hingga terang-terangan.

Pola ini sesungguhnya jauh lebih liar ketika ada lembaga pendidikan tinggi yang terkenal, justru melakukan yang sama ketika ada orang besar kuliah, dengan proses penggarapan tugas akhir secara memuakkan. Celakanya, orang-orang berpendidikan dan berada dalam rumah perguruan tinggi, ada yang terlibat secara langsung dalam proses yang hina ini.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment