Berbuat Baik Itu Memang Pilihan

Di dalam kelas, saya selalu mengingatkan mahasiswa bahwa berbuat baik itu memang seperti pilihan. Dalam bahasa agama, orang mau berbuat baik atau buruk, bisa dilakukan dengan penuh kesadaran. Berbuat baik atau berbuat buruk, berkemungkinkan sebagai …

Di dalam kelas, saya selalu mengingatkan mahasiswa bahwa berbuat baik itu memang seperti pilihan. Dalam bahasa agama, orang mau berbuat baik atau buruk, bisa dilakukan dengan penuh kesadaran. Berbuat baik atau berbuat buruk, berkemungkinkan sebagai pilihan yang diketahui bentuk dan dampaknya.

Saya kira tidak mungkin orang yang ingin menzalimi orang lain, dia tidak tahu bahwa itu sebagai sesuatu yang buruk. Maka ketika ia tetap melakukannya, berarti pilihan ia memilih itu dan pasti ada konsekuensinya, baik dalam kehidupan ini atau nanti setelah mati.

Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan setiap waktu. Paling sederhana, pada pilihan lurus dan pilihan tidak lurus. Dalam memilih ini pun ada tantangannya. Membutuhkan kesabaran yang ekstra. Memilih jalan tidak lurus lebih gampang. Sedangkan memilih jalan lurus seperti memilih jalan yang mendaki, yang setiap tanjakan selalu ada tantangan yang menghadang.

Pada hal yang kecil sekalipun tersedia tantangan tersendiri. Belum lagi masalah persepsi. Bagi orang tertentu, ada masalah serius, padahal masalah tersebut bagi orang lain terkesan kecil dan sederhana. Sebaliknya, masalah yang biasa saja menurut mereka yang merasakan, namun bagi kita yang melihat seperti krusial luar biasa.

Sebenarnya dari masalah kecil menggelembung menjadi masalah besar. Masalah kecil yang berkumpul menjadi satu, yang awalnya dibiarkan, lalu menjadi masalah serius. Perhatian yang abai terhadap masalah kecil, justru menjadi peluang munculnya masalah besar dan serius.

Banyak masalah kecil yang tidak disadari sepenuhnya. Bagi yang sadar, karena menganggap ia terlalu kecil untuk diperhatikan, sehingga menimbulkan hal-hal yang di luar dugaan. Tindakan kriminal yang banyak terjadi, balas dendam antar sesama saudara atau orang dekat, bahkan kerap dimulai dari hal kecil yang tidak disadari atau dibiarkan begitu saja.

Di jalan raya juga demikian. Orang-orang yang menggunakan jalur salah, karena terlalu lama dibiarkan, yang terjadi seolah mereka yang benar. Suatu kali seorang teman merasakan hal ini. Seputar tatap, penuh kebencian. Orang yang satu menatap yang lain, tetapi tidak berdasarkan rasa persaudaraan, melainkan dengan amarah dan mungkin, rasa benci.

Teman saya keluar dari rumah sudah agak terlambat. Ia harus masuk ke kantor, namun sebelumnya harus singgah di beberapa tempat untuk menunaikan sejumlah kewajiban. Kebetulan harus masuk ke bank yang ada di delta Masjid Raya. Ia ke sana untuk menyetor uang, yang salah satu cabang bank di maksud ada di sekitar tempat tersebut. Ia juga harus masuk ke tempat lain, merasakan banyak hal yang menguras emosi.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment