Ada cerita sederhana dari seorang kenalan yang jualan di pinggir terminal masa konflik. Ia seorang mahasiswa, tapi memiliki warung kopi. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi warungnya, di pusat kota, sedangkan kondisinya konflik. Pada saat yang sama, orang harus hidup dan tidak boleh menyerah. Namun dalam menjalankan aktivitas, apa pun memungkinkan terjadi.
Kenalan saya itu, bercerita bahwa tidak semua orang takut dengan kondisi konflik dan krisis. Bisa jadi ada orang yang justru bisa merasakan untung saat kondisi tidak baik-baik saja. Justru ada orang yang tidak akan mendapat apa-apa kalau kondisi baik-baik saja.
Tentu saja saya terhenyak mendengar ini. Tapi begitulah realitas. Jadi jangan pernah bingung, misalnya, ketika ada orang yang justru meraup laba saat orang lain sedang menderita. Sebagian orang pasti akan bilang, itulah kehidupan, yang terjadi tidak selalu hitam-putih.
Itulah juga yang terjadi ketika bangsa sedang krisis. Yang satu titik krisis kecil dialami bangsa ini, terutama dengan melemah rupiah dan orang memanfaatkan melemah rupiah itu. Namun ketika harga dollar sudah di bawah Rp18 ribu, banyak orang yang antre menukarkan dollarnya kembali.
Orang-orang yang akan menjual dollarnya merasa khawatir bahwa rupiah semakin menguat. Orang-orang yang ingin meneguk untung dari “bisnis” ini, kekhawatiran muncul dengan menguatnya rupiah, karena akan membuatnya merugi. Orang yang lahan “bisnis” ini, mungkin juga memiliki rasa tertentu ketika harga dollar naik, rupiah melemah, pada saat itu rakyat menjerit dengan naiknya hampir semua barang.
Kekhawatiran orang yang antre ingin menjual dollar, tentu berbeda dengan rasa khawatir yang dialami oleh orang banyak yang berharap-harap cemas, bahwa ketika rupiah menguat, akankah barang-barang yang sudah terlanjur naik itu bisa normal kembali?
Untuk pertanyaan terakhir ini, jawaban idealnya sangat sulit. Biasanya barang-barang konsumsi untuk rakyat kecil, jarang yang bisa turun kembali. Sejarah turun harga hanya pada harga bahan bakar minyak yang turun karena kepentingan mereka yang sedang bermain politik. Waktu itu, harga minyak dinaikkan dahulu, ketika ada mau pemilihan politik, diturunkan sedikit dan itu disebut sebagai sebuah sejarah yang pro rakyat.
Selain yang itu, rasanya jarang barang-barang lain akan turun atau segera turun ketika rupiah menguat. Orang berseloro, sama seperti membayar ongkos orang naik kelapa yang menghitung harga naiknya saja, tidak peduli dengan harga turunnya. Mau turun atau tidak, selepas krisis, orang penting sering abai –bahkan alpa memikirkannya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.