Memahami Baik Menurut Kita

Pesan Allah dalam al-Quran, jelas, sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Demikian juga sebaliknya. Yang kita sukai dan lakukan, kadang kala bertolak belakang dengan apa yang harusnya baik menurut Pencipta. Kita …

Pesan Allah dalam al-Quran, jelas, sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Demikian juga sebaliknya. Yang kita sukai dan lakukan, kadang kala bertolak belakang dengan apa yang harusnya baik menurut Pencipta.

Kita semua membutuhkan yang namanya penyaring. Berbagai hal yang kita peroleh atau kita alami dalam kehidupan, membutuhkan saringan untuk memilah dan memilih. Sesuatu yang baik, sudah benar-benar tersaring melalui penyaring, sehingga harus dilanjutkan. Sesuatu yang jelek juga demikian, sehingga dengan mudah ditinggalkan.

Ada tidaknya penyaring satu hal, dan bagaimana penyaring itu didayagunakan, satu hal lain lagi. Ada orang yang memiliki penyaring, namun tidak dipergunakan pada saat berhadapan dengan yang menguntungkan –walau sebenarnya ia perbuatan buruk. Kemauan untuk menggunakan penyaring, sekaligus untuk menyortir menemukan dan melakukan sesuatu yang baik, sepertinya sudah menjadi hal yang langka.

Padahal kemauan untuk menggunakan penyaring, akan memberi sinyal kepada kita tentang sesuatu yang akan kita lakukan atau tidak. Sesuatu yang buruk bisa saja diketahui, namun ada sebagian orang yang tidak berdaya untuk meninggalkan. Sebaliknya yang baik, seperti berat untuk dilakukan.

Hal demikian sering terjadi, baik kecil maupun besar. Saya ingat satu kejadian suatu pagi. Mengingat kejadian ini, di satu sisi membuat saya bisa terpingkal-pingkal. Di sisi lain, ada rasa trenyuh. Pasalnya, saya janji dengan seseorang bertemu di satu kantor pemerintah. Orang yang membuat janji dengan saya adalah orang yang saya butuhkan sedikit ilmu darinya. Tidak saya sangka ia datang dengan rombongan, yang berjanji untuk bertemu orang penting lainnya di kantor yang sama. Seperti janji ganda, ia janji menerima saya pada waktu ia sedang berjanji untuk bertemu orang lain lagi. Bukankah ini ganda.

Saya kira hal ini beberapa kali terjadi. Kita tidak menimbang-nimbang apakah yang kita lakukan akan nyambung dengan orang yang kita sudah berjanji bertemu. Ada hal yang khusus yang harusnya juga dipahami dalam konteks yang khusus. Namun realitasnya, banyak yang melupakan sisi yang demikian.

Orang mengira apa yang dilakukannya semua baik, tanpa mempertimbangkan bagaimana dengan orang lain. Bagaimana sekiranya ada hal yang hakiki justru ingin disampaikan oleh teman kit aitu.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment