Ambil Amplop Asal Teken

Setiap kali saya ingat kejadian ini, agak geli, agak malu, bercampur aduk. Suatu kali mengunjungi sebuah kantor resmi. Di sana ada orang yang sedang menunggu. Rupanya di sana pun sedang ada tamu yang lain. Bedanya, …

Setiap kali saya ingat kejadian ini, agak geli, agak malu, bercampur aduk. Suatu kali mengunjungi sebuah kantor resmi. Di sana ada orang yang sedang menunggu. Rupanya di sana pun sedang ada tamu yang lain. Bedanya, ada rombongan yang sengaja diorganisir dan mendapat kompensasi.

Pada kantor tersebut, pimpinan yang ingin kami temui sedang menerima tamu dari beberapa perguruan tinggi. Setidaknya 15 orang sedang bertemu dengan pimpinan itu. Mereka entah dari mana saja datangnya, dikoordinir oleh sebuah panitia penyambutan.

Saya tentu tidak memahami bagaimana proses itu berlangsung. Namun saya membawa seorang teman, yang biasanya akan membantu saya untuk menjelaskan beberapa hal yang saya kurang mampu –ketika saya menjumpai pimpinan itu. Ketika kami sampai, ada proses yang kami tidak lihat. Panitia penyambutan acara yang berbeda sudah membagi-bagikan amplop untuk semua orang di ruang tunggu, yang menganggap bahwa orang di ruang tunggu adalah peserta dari rombongan perguruan tinggi tersebut. Rombongan itu diberikan ongkos perjalanan. Dan pada waktu itu, ternyata semua orang di ruang tunggu tidak saja orang dari rombongan, melainkan ada dari orang dari urusan yang berbeda.

Mungkin karena dari segi jumlah terasa membengkak, panitia penyambut lalu berbalik arah. Ia menghitung ulang amplop yang disediakan, dan benar, ternyata sudah lebih dari yang disediakan. Sementara orang yang dari rombongan, belum semua mendapatkannya.

Ketika orang penting sudah masuk ke acara, panitia penyambutan baru mengetahui bahwa para penunggu di ruang tunggu adalah orang yang salah diberikan amplop. Pertanyaan saya dengan teman yang saya bawa, bagaimana bisa orang menerima amplop dan langsung meneken, padahal di lembar penerima itu jelas tertera nama penerima yang seharusnya. Dengan setengah berkelakar, sang teman menyebut: asal soal teken.

Tak tersadari kami saling tertawa lepas. Tiba-tiba saya teringat hal lain. Orang yang saya kenal, seharusnya tidak boleh demikian. Mungkin ia baru berfikir bahwa berkunjung ke kantor orang penting selalu mendapat kompensasi. Mungkin ia berfikir begitu. Akan tetapi masalahnya adalah nama orang lain yang tertera di lembar tanda terima, tidak mungkin bisa diubah-ubah. Seharusnya ia bisa tanya mengapa namanya berbeda dengan namanya. Mengapa tidak ada pertanyaan demikian.

Kondisi ini yang membuat saya trenyuh. Jangan-jangan ketika berhadapan dengan amplop, seperti ada ketidakberdayaan untuk bertanya segala sesuatu. Ketika menerima satu amplop yang isinya sudah bisa ditebak, kekuatan untuk menolak yang bukan haknya, seperti terbenam dalam lumpur yang dalam.

Sepulang dari sana, saya berdoa dengan penuh harap, semoga makin banyak orang yang menimbang-nimbang. Dengan penyaring, harus memiliki kemauan untuk menggunakan. Saya kira membutuhkan banyak generasi yang berani menolak sesuatu yang bukan haknya. Mudah-mudahan kita semua tidak tergoda terhadap sesuatu yang bukan hak kita. Jangan tergoda.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment