Realitas ini sering saya cerita di dalam kelas. Soal bagaimana pada tempat-tempat penting dan butuh khusyuk, ternyata masih dihantui dengan orang yang tidak mampu mengontrol alat komunikasi. Untuk urusan beribadah saja tidak mampu, apalagi dalam rapat-rapat yang dipimpin manusia.
Saya juga mendapatkan sejumlah pengalaman orang-orang yang ikut rapat, lupa mengatur volume alat komunikasi, tiba-tiba sudah terdengar irama dangdut. Orang yang sedang serius mengikuti rapat, tiba-tiba terpecah dari hening. Kondisi ini, bagi manusia, bisa menyakitkan. Sebeliknya, untuk urusan yang lebih hakiki, kita malah abai begitu saja.
Saya memiliki beberapa pengalaman dalam shalat berjamaah. Dengan berkesempatan shalat di beberapa masjid, saya melihat hal yang sebenarnya ganjil. Orang-orang yang bermental nomophobia, setiap selesai shalat, selalu melihat handphone atau smartphone-nya. Orang lain sibuk dengan berdoa, sedangkan yang nomophobia, sibuk memencet-mencet layar atau tombol handphone atau smartphone.
Pengalaman ini yang mengingatkan saya pada suatu masjid, yang dengan tulisan gamblang menulis di pintu utama, “adakah call yang lebih penting daripada panggilan Allah?” Hal ini penting menjadi renungan, agar tidak sampai ada yang menjadi budak alat komunikasi. Seolah-olah menerima panggilan manusia tidak bisa ditunda. Bahkan ada orang yang merusak shalatnya hanya gara-gara mau menerima panggilan telepon.
Ada pergeseran yang sangat tentang bagaimana orang memosisikan sesuatu yang penting dan yang tidak terlalu penting. Ketika di dalam tempat ibadah, seyogianya tidak ada yang sepenting berkonsentrasi untuk beribadah. Tidak sibuk dengan menjawab atau membalas pesan pendek.
Untuk kategori ini saja sudah tidak bisa tahan, bagaimana dengan target yang lain, untuk mencapai ibadah yang berkualitas. Bukankah ibadah berkualitas sebagai salah satu ruang untuk mengerjakan apa yang menjadi perintah bagi manusia?
Di masjid kampung kami, ada orang tua yang agak keras soal ini. Ketika melihat ada jamaah –apalagi yang duduk pada saf depan dan ia sibuk dengan alat komunikasi, akan ditegur dengan suara keras. Beliau biasanya duduk agak ke belakang, melihat yang di depan, langsung bersuara untuk tidak bermain-main alat komunikasi.
Memang benar ada yang menggunakan alat ini, misalnya untuk membaca Quran. Namun harus dipahami, orang-orang di sekeliling kita pasti bisa membedakan orang yang sedang mengaji dengan mereka yang sedang menonton. Bahkan di dalam masjid, setelah beribadah yang mirip pura-pura, kita bahkan menggunakan alat komunikasi untuk sesuatu yang tidak layak.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.