Mengingat Bencana Tsunami dan Damai Aceh

Bencana dan Aceh, sepertinya semakin menjadi momentum untuk diingat. Apalagi Agustus dan Desember. Ada dua even di Aceh sama-sama penting, yakni bencana tsunami pada Desember dan damai Aceh pada 15 Agustus. Kedua even selalu diperingati …

Bencana dan Aceh, sepertinya semakin menjadi momentum untuk diingat. Apalagi Agustus dan Desember. Ada dua even di Aceh sama-sama penting, yakni bencana tsunami pada Desember dan damai Aceh pada 15 Agustus. Kedua even selalu diperingati secara tertib.

Bahkan akhir tahun, ada hal yang masih sangat diingat publik, tidak hanya lokal, tetapi nasional bahkan internasional. Bencana yang pernah terjadi di pengujung 2004. Bahkan untuk tiap tahun sesudah, tersedia banyak agenda untuk mengingatkan adanya bencana besar.

Ada hajatan yang selalu dilaksanakan. Orang-orang penting turut dihadirkan. Bahkan tidak sedikit anggaran yang dibutuhkan dalam rangka melaksanakan hajatan yang demikian. Ketika bisa diyakinkan betapa penting itu diingat, seringkali anggaran tidak menjadi soal. Untuk hal-hal yang bahkan disukai publik, besarnya anggaran pun tidak selalu mendapat perhatian.

Begitu yang sering terjadi. Bahkan jika ada orang yang mengoreksi besarnya anggaran pun, sering dicemooh. Padahal yang dikritisi juga terkait dengan kepentingan publik juga.

Bencana memang harus diingat, namun tetap dalam koridor yang wajar. Mencerdaskan publik menghadapi bencana sangat penting, dibandingkan dengan menghadirkan even hanya untuk mengingat. Sebuah kejadian harus menjadi bahan pembelajaran, yang hanya mampu dipersiapkan oleh mereka yang hidup secara bersahaja.

Begitulah. Aceh menjadi sangat seksi, secara global, paling tidak terkait dengan tiga hal utama. Tsunami yang menghulung balang Aceh tanggal 26 Desember 2004. Sebelumnya ada konflik panjang dan berdarah yang menerpa Aceh selama lebih tiga dekade, selesai setelah melalui banyak babak musyawarah dan pertemuan, dengan diteken kesepahaman bersama tanggal 15 Agustus 2005. Acara teken setelah pertemuan secara maraton, berlangsung di Helsinki, sebuah kota di Finlandia. Mediatornya adalah mantan presiden negara itu, yang kemudian mendapat penghargaan perdamaan dunia.

Sebelumnya juga sudah diupayakan berbagai jalan penyelesaian. Sejak tahun 2000 hingga gagal pada tahun 2002. Hanya saja pertemuan terakhir, turut ditentukan oleh bencana. Jadi bencana yang kemudian juga memberi kemudahan bagi konflik. Entah semua mengakui atau tidak, tentang pengaruh bencana bagi penyelesaian konflik.

Keduanya seperti berada dalam satu ruang. Menyelesaikan bencana, sekaligus mendamaikan. Terlepas ada banyak tuntutan di belakangnya. Misalnya ketika menyelesaikan bencana, berbagai pihak meminta harus dalam koridor damai. Jelas, karena tidak mungkin membangun pascabencana tanpa didahului oleh damai. Idealnya, ketika mengingatnya pun, harus dalam dua hal itu. Jangan dipisah-pisah.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment