Suatu kali, dalam satu opini, saya mempertanyakan berapa banyak dana daerah yang berasal dari pajak rakyat, digunakan untuk membiayai iklan atau apapun di baliho. Apakah semua yang tampil di sana sebagai kebutuhan rakyat? Atau justru menggunakan uang rakyat demi keuntungan pribadi, dalam wujud menjaga eksistensi dan elektabilitas politiknya.
Sayangnya, kondisi ini terus berlangsung dan kesannya semakin mengada-ada akhir-akhir ini. Malah ada wakil rakyat yang sangat rajin menayangkan baliho dari berbagai pihak yang meminta bantuan. Bahkan ada yang mengundang siapa pun, agar dana baliho mungkin bisa digunakan.
Lantas ketika gambar mahasiswa yang muncul di baliho, apa yang akan dimaknai oleh orang-orang. Kolega saya menyebut fenomena ini sebagai tidak sehat. Ketika mereka yang mengurus aktivitas mahasiswa melaksanakan program organisasi, darimana sumber keuangan? Katakanlah dari dana rakyat. Harus diingat bahwa mahasiswa menjadi motor untuk menggunakan dana rakyat secara efektif dan efisien.
Ada satu alasan yang sering terdengar, bahwa baliho yang dipasang tidak dibayar, justru diantisipasi oleh berbagai kantor –di mana lokasi baliho tersebut berada. Dalam bahasa yang berbeda, pemasangan baliho yang ditanggung oleh pihak lain, merupakan kompensasi dari dana yang seharusnya dikeluarkan. Sedangkan kondisi begini, sebelas dua belas dengan alasan di atas, memakai uang untuk sepenuhnya bermanfaat.
Tidak mungkin membandingkan mereka yang beraktivitas mahasiswa dan yang bukan mahasiswa. Tidak boleh bila ada mahasiswa beralasan bahwa uang rakyat bisa dipakai, ketimbang dipakai oleh mereka yang kebetulan sedang memegang amanah jabatan tertentu. Alasan begini, sama artinya dengan menyamakan diri dengan mentalitas yang memiliki jabatan atau kuasa. Dimana bedanya. Sedangkan aktivis adalah penyambung lidah rakyat.
Lalu sekiranya pun ada kepentingan lain, mudah-mudahan bukan untuk memperkenalkan diri dengan tujuan yang beragam –dengan sumber keuangan yang semakin dipertanyakan. Saya mengharapkan mereka yang beraktivitas bagi kegiatan mahasiswa yang sering memasang gambarnya di baliho-baliho, untuk mempertimbangkan apa yang saya sampaikan ini.
Tidak bermaksud menyamakan semua mahasiswa. Saya menyadari bahwa wajah di baliho bukan berarti semua aktivis mahasiswa demikian. Pertanyaan harus muncul untuk mengibarkan spirit mahasiswa yang senantiasa harus ada dalam sepanjang perjalanan sejarah. Tujuan hakiki yang selalu harus diluruskan, tidak boleh mati dan tersendat hanya gara-gara soal sepele, semisal urusan foto di baliho tersebut.
Pola ini juga lagi ngetren. Mungkin sebagian mahasiswa juga sudah memilih jalan pintas –jalan yang yang sudah mulai digunakan semua pihak dengan berkoborasi dengan kaum politik dalam menjaga kepentingan eksistensi dan elektabilitas politiknya. Tapi, dengan menggunakan dana rakyat.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.