Saya Membedakan Daya Rekam dan Daya Panggil

Saya kira, otak itu sebagai ciptaan yang Maha Sempurna. Suatu ciptaan yang berbeda dengan alat rekam yang diciptakan oleh manusia. Wajar saja, karena ciptaan ini dari yang menciptakan manusia. Soal otak, yang mampu merekam semua …

Saya kira, otak itu sebagai ciptaan yang Maha Sempurna. Suatu ciptaan yang berbeda dengan alat rekam yang diciptakan oleh manusia. Wajar saja, karena ciptaan ini dari yang menciptakan manusia. Soal otak, yang mampu merekam semua hal, bisa dirasakan hingga usia kita menua. Memang kemampuan untuk merekam dan memanggil bisa saja aus, karena usia. Semakin tua, daya ingat sudah lemah, dan semacamnya. Akan tetapi soal apa yang dialami, setiap orang pasti memiliki kemampuan meningatnya masing-masing. Dalam kelas menulis, saya sering meminta peserta menceritakan pengalaman apa yang paling berkesan dalam hidupnya. Mereka, yang saya minta cerita itu, bisa saja menceritakan sejumlah pengalaman –yang bahkan sudah berlangsung bisa puluhan tahun yang lalu—tapi mereka masih ingat persis.

Pertanyaan saya, sebenarnya sederhana. Apa yang menyebabkan mereka masih ingat? Atau pertanyaan yang lain, ketika diminta menceritakan pengalaman, mengapa yang mereka ingat apa yang diceritakan pada kesempatan tersebut? Jadi orang yang menceritakan kisahnya kepada orang lain, bisa saja sejumlah potongan. Ketika ia mendapat momentum tertentu yang bisa memancing ingatan sesuatu, maka apa yang ia ingat itu bisa diceritakan dengan baik.

Di sini, saya membedakan apa yang saya sebut sebagai daya rekam dan daya panggil. Dapat dipastikan, pengalaman yang mereka ceritakan, berdasarkan apa yang mencemeti ingatan mereka. Berbeda dengan daya rekam, yang semua hal bisa ditampung dalam otak, semua pengalaman dan peristiwa yang berpuluh tahun. Usia seseorang yang sudah 50 tahun, ia bahkan ingat kisah-kisah yang berlangsung 45 tahun yang lalu. Ada orang yang ketika usia lima tahun, mereka sudah punya kemampuan untuk mengingat apa yang terjadi saat itu.

Jadi jangan menganggap sederhana soal kemampuan otak yang merekam informasi apapun sepanjang hidup kita. Produk dari yang Maha Sempurna. Ia mampu merekam perjalanan yang tidak terbatas. Pengalaman itu, bahkan jika dibandingkan dengan ukuran yang dibuat manusia, sungguh tidak sebanding. Memori gawai, laptop, atau komputer, kapasitasnya terbatas. Atau bahkan dengan kemampuan simpan di awan melalui “drive”, juga bukan ruang penyimpan yang tak terbatas seperti halnya otak.

Kapasitas inilah yang berbeda. Kapasitas inilah yang bisa diberdayakan untuk diatur dan dikelola dengan baik. Apa yang sudah disimpan lama itu, sepanjang perjalanan hidup kita, butuh manajemen agar bisa dikeluarkan pelan-pelan. Kemampuan untuk mengeluarkan itu juga butuh latihan. Pada dasarnya apa yang kita mau tulis, sesuatu yang sesungguhnya sudah tersimpan dalam otak. Berarti dibutuhkan kemampuan kita dalam memanajemeni agar apa yang mau dituliskan itu bisa dikeluarkan dengan baik sesuatu dengan apa yang dibutuhkan. Mereka yang sudah melakukan berulang-ulang proses mengeluarkan ingatan, akan menganggap bahwa proses ini sama saja dengan aktivitas yang lain.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment