Ada satu hal yang tidak disadari oleh mereka yang memegang kuasa, yakni merasa apa yang dimiliki itu seolah akan abadi. Orang-orang yang sedang memegang kuasa, seakan lupa bahwa suatu saat ia bisa hilang, baik secara terhormat maupun dengan tiba-tiba.
Konteks kuasa itu bisa berbeda-beda. Secara politik, ekonomi, bahkan sosial budaya. Dominan adalah politik, karena bidang ini yang memungkinkan orang melakukan banyak hal. Bahkan dalam ilmu sosial, posisi politik dianggap penting, terutama mereka yang di tangannya memiliki kewenangan mengambil kebijakan, karena melalui tanda tangan mereka itulah, banyak hal memungkinkan dilakukan.
Selembar surat dan keputusan yang dikeluarkan, memungkinkan banyak hal berubah. Ingatlah bagaimana mereka yang sangat gemar mengeluarkan izin-izin yang merusak lingkungan, mengundang malapetaka bagi banyak orang. Itu menjadi contoh sederhana bagaimana seseorang yang di tangannya memiliki kewenangan tertentu, sangat menentukan keadaan banyak orang.
Dengan logika itu, dapat dipahami secara sederhana bahwa kuasa itu adalah amanah. Sama seperti hal lain yang diberikan kepada manusia, seperti kepemilikan harta dan keturunan. Semuanya harus dipertanggungjawabkan pada saatnya nanti. Orang yang bijak tidak akan lupa bahwa suatu kekuasaan harus diperoleh dengan cara yang baik. Mereka yang menjalankan amanah harus selalu berusaha untuk melaksanakannya secara lurus.
Suatu amanah juga tidak mungkin hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia. Ada pemilik kuasa sesungguhnya. Tidak terbatas pada manusia yang dengan cara tertentu menyerahkan bagiannya, melainkan juga pemilik kuasa.
Banyak orang yang bermasalah dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya. Bentuk masalah itu berbagai macam. Namun orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kuasa. Tidak hanya dikejar dengan cara yang lurus, melainkan dengan cara-cara yang busuk.
Dalam banyak kasus, terjadi hal yang menyedihkan. Ada bupati yang baru sebulan menjabat, tiba-tiba ditangkap karena narkotika dan obat-obat terlarang. Lalu ada pejabat pengadilan yang menerima suap dari mereka yang berkasus. Anggota legislatif yang menerima hak untuk mengurus proyek tertentu yang akan dibawa ke daerah bersangkutan.
Ketika jabatan yang sedang diemban, tiba-tiba hilang begitu saja, seharusnya menyadarkan mereka yang sedang memegang kekuasaan bahwa sewaktu-waktu ia bisa hilang begitu saja.
Ada orang yang hilang atau tercabut dari jabatannya dengan cara yang terhormat, alamiah, dan santun. Ada orang yang merasa sudah tidak mampu, tidak sungkan-sungkan dan malu untuk mengundurkan diri.
Orang yag diintervensi terlalu dalam oleh kelompok politiknya, memilih jalan mundur, juga bukan langkah yang patut digelisahkan. Atau mereka yang diambil jabatan karena untuk diberikan secara bergilir kepada orang lain. Hilangnya jabatan demikian, pada dasarnya adalah sesuatu yang biasa dan tidak harus ditangisi.
Di pihak lain, tak sedikit orang yang hilang jabatannya dengan cara yang hina dan memalukan. Mereka yang memiliki jabatan kedapatan menghembuskan nafas terakhirnya di tempat yang tidak layak. Ada orang yang ditangkap ketika sedang melakukan hal yang merusak.
Coba bayangkan penguasa diperiksa karena kedapatan menerima uang hasil rasuah karena melahirkan kebijakan tertentu yang menguntungkan gerombolan hitam. Atau mereka yang tiba-tiba ditangkap karena seseorang bersama kelompoknya sedang menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang.
Ada yang malah sedang kondisi “on”. Ketika dibawa ke kantor pemeriksa, dengan tangan terborgol dan memakai baju tahanan, lalu melewati tempat yang banyak orang, disorot kamera dan diberitakan secara luar biasa. Pada posisi ini, kenyataan hina dan memalukan.
Selain itu, biasanya ketika orang sedang memegang jabatan, amanah, dan kekuasaan tertentu, setiap waktu selalu ada yang melingkari. Banyak orang yang mendampingi dan senantiasi berada di sekelilingnya. Tujuan praktisnya, sebagian besar karena kepentingan. Namun ketika seseorang berkasus, ia seperti berada dalam ruang sepi. Banyak orang yang berada di sekelilingnya, memilih tidak akan mengunjunginya.
Apalagi seseorang itu berkasus dalam hal yang bisa menjadi aib bagi dirinya, keluarga dan kelompok politiknya. Orang yang tidak mengunjungi, umumnya juga sangat praktis. Kepentingan terhadap yang bersangkutan menjadi berkurang, bahkan hilang. Di samping itu, bisa jadi karena ketakutan, jangan-jangan orang yang berkunjung untuk menjenguk seseorang, akan direkam dan dipantau untuk menyelidiki secara lebih dalam kasus yang dialami oleh mereka yang ada dalam penjara.
Yang anehnya adalah orang-orang yang berkasus dan hilangnya kekuasaan dengan cara-cara yang hina demikian, masih saja bisa tersenyum di hadapan kamera. Masih tidak malu melambai tangan ketika mata kamera mengarah ke arahnya.
Semua kenyataan di atas harus dipahami oleh mereka yang kebetulan sedang memegang amanah. Berdoalah agar amanah itu dicabut dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang buruk.
Dengan demikian harus selalu diingat, bahwa akhir yang baik selalu harus diusahakan dengan melaksanakan amanah itu secara baik. Jika tidak, tunggu saja akan mendapatkan sebaliknya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.