ATM

Seiring dengan perkembangan teknologi, berbagai macam tipuan juga muncul ke permukaan. Ada sisi negatif. Tidak terhitung sisi positifnya. Manusia dimudahkan dengan berbagai perkembangan teknologi tersebut. Jika tidak hati-hati, banyak yang akan memanfaatkan kondisi ini untuk …

Seiring dengan perkembangan teknologi, berbagai macam tipuan juga muncul ke permukaan. Ada sisi negatif. Tidak terhitung sisi positifnya. Manusia dimudahkan dengan berbagai perkembangan teknologi tersebut. Jika tidak hati-hati, banyak yang akan memanfaatkan kondisi ini untuk keuntungan pribadi secara melanggar hukum.

Mereka yang bergerak dalam dunia gelap itu juga terorganisir rapi. Mereka menyiapkan segala sesuatunya. Coba dibayangkan, bahkan untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum, ada manajemen yang dibangun. Mereka bergerak dengan rapi dan jika tidak hati-hati, orang akan tertipu dengan langkah-langkah sistematis mereka.

Saya pernah punya pengalaman satu kali. Pada suatu hari menjelang siang, tiba-tiba masuk panggilan ke handphone saya dari satu nomor yang belum tersimpan. Nomor baru. Seorang lelaki, dengan sangat santun, memberi kabar bahwa saya menjadi salah satu nomor yang sangat beruntung, mendapatkan hadiah sebesar Rp 5 juta. Ia berulang kali mengulang empat angka terakhir nomor handphone saya, mungkin dengan maksud ingin memastikan bahwa tujuan mereka memang tidak salah. Dengan pola demikian, ia barangkali juga ingin meyakinkan bahwa hanya nomor saya saja yang beruntung pada hari ini, bukan nomor yang lain.

Saya tidak banyak mendengar di belakang penelepon itu. Mungkin hanya dua orang yang kesan saya tangkap semacam suara yang dibuat-buat seperti orang yang sedang berbicara. Tidak seperti tempat aslinya, operator telekomunikasi begitu riuh. Belum lagi ada panggilan elektronik melalui mesin-mesin untuk nomor antrian. Banyak mereka yang mengurus urusan masing-masing untuk itu. Sedangkan yang saya dengar dari panggilan, tidak demikian. Namun mereka sangat percaya diri, menghubungi lalu memperkenalkan diri –entah nama asli atau palsu, lengkap dengan pengakuan posisi mereka dari kantor pusat. Posisi kantor pusat ini pun menjadi penawar tambahan, bahwa keberuntungan itu memang benar-benar dari sana, bukan dari kantor wilayah. Padahal selama ini, apapun yang ada di pusat, pada dasarnya juga bisa dipastikan melalui kantor wilayah. Akan tetapi tidak demikian dengan penelepon ini.

Saya berusaha mendengar apa yang disampaikan. Pertama ditanyakan apakah saya memiliki rekening, agar mereka mudah melakukan transfer hadiahnya –katanya setelah dipotong pajak penghasilan dan ongkos transfer. Hal yang pertama saya tanya ke penelepon sebelum saya jawab apapun adalah: berapa ongkos kirim yang mereka butuhkan. Jawaban mereka ternyata tidak banyak, hanya 20 ribu saja, plus pajak 15 persen. Lalu saya suruh hitung, dengan hadiah saya Rp 5 juta, berapa saya harus melunaskan pajak dan ongkos kirim tersebut. Dalam beberapa detik, mereka sudah jawab angkanya. Lalu saya tanyakan pertanyaan lain, mereka membutuhkan ATM (anjungan tunai mandiri) dari bank apa? Mereka menunjuk bank tertentu. Saya jawab bahwa saya tidak punya, lalu mereka menanyakan ATM apa yang saja punya. Saya katakan ke penelepon ini, bahwa tipuannya ketahuan.

Saya sarankan tidak semua orang menerima telepon yang demikian. Jika tidak jelas, baiknya ditutup saja. Dilayani pun –walau sudah tahu ini tipuan—tetap akan menghabiskan energi positif kita. Untuk pembelajaran bagi saya, menarik sekali untuk memahami betapa mereka menyiapkan kejahatannya secara sempurna. Komplotan yang demikian, sepertinya memiliki sejumlah orang yang masing-masing memiliki tugas tersendiri, dari mereka yang menelepon, mungkin hingga mereka yang mengolah dari mesin ATM. Komplotan pelaku kejahatan mengorganisir diri sedemikian rupa untuk melakukan pekerjaan jahatnya. Kenyataan ini sangat penting untuk kita pahami, bahwa seyogianya, pekerjaan yang baik pun akan mengorganisir diri sedemikian rupa dan jangan menyerah dan mau tertinggal dari penjahat yang juga mengorganisir diri. Jangan menunggu waktu besok atau lusa untuk mengorganisir berbagai kebaikan, karena belum tentu setelah beberap detik ke depan kita masih memiliki hidup secara sempurna.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment