Mengorganisir barisan jalan lurus, adalah kunci dalam tulisan ini. Barisan jalan lurus tetap membutuhkan manajemen yang baik, agar tidak dikalahkan oleh barisan jalan buruk yang kenyataannya terorganisir dengan rapi. Berbagai perilaku jalan buruk, dilaksanakan dengan rencana yang matang, lalu diimplementasikan dengan kerja yang profesional, serta dilakukan evaluasi sedemikian rupa.
Apakah barisan jalan lurus melakukan juga hal seperti itu? Sepertinya barisan jalan buruk sudah banyak menempuh jalan yang lebih rapi dan terencana. Jika tidak dikuatkan juga, maka bukan tidak mungkin barisan jalan lurus akan terhempas dan ketinggalan dengan barisan jalan buruk.
Barisan jalan lurus selalu diukur dengan batasan tertentu. Sayangnya, akhir-akhir ini, ada satu hal yang mengkhawatirkan menghinggap kehidupan kita, yakni jalan lurus pun diminta pendapat terbanyak. Orang tidak peduli apakah sesuatu itu lurus atau tidak, ketika ia menjadi pilihan banyak orang, maka ia menjadi seperti sah untuk diambil pilihan.
Perkembangan saluran media sosial, turut mempercepat proses anggapan seolah-olah suara terbanyak turut menentukan sesuatu itu akan dianggap lurus atau tidak. Orang menggunakan media sosial dalam hal apapun. Untuk tidak menyetujui sesuatu, walau itu sebagai solusi yang baik, juga meminta persetujuan sosial lewat media sosial. Ketika banyak orang menganggap sesuatu itu, walau ia sebagai sesuatu yang baik, bisa saja dianggap bukan solusi yang tepat. Sebaliknya, sesuatu yang tidak baik, sesuatu yang tidak lurus, ketika banyak orang merasa itu sebagai sesuatu yang bisa diterima, maka ia bisa dianggap solusi.
Pilihan ketika memilih sesuatu itu bisa saja tidak dilakukan secara sadar. Orang yang ikut-ikutan pada pilihan yang banyak digandrungi generasi sekarang. Atau melihat ada keuntungan tertentu ketika memilih sesuatu itu. Maka ketika memilih yang demikian, tidak lagi memperhitungkan apakah sesuatu itu sebagai baik atau buruk. Pilihan model ini juga tak memperhitungkan dalam jangka tertentu ia akan menghancurkan atau menyelamatkan.
Begitulah dunia yang sudah terbolak-balik. Hampir-hampir jika kita bertumpu pada pendapat massal, tidak mengetahui persis yang mana jalan baik dan mana jalan buruk. Orang yang berada di jalan lurus berpotensi untuk dikecam dan dilecehkan. Orang tidak lurus yang didukung oleh banyak orang, lalu menjadi pilihan. Orang yang baik karena pendapatnya sering menjadi bahan ejekan. Sebaliknya, mereka yang buruk dan digandrungi banyak orang, kerap menjadi orang yang dipuji.
Maka pasti tepatlah Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan agar pengguna jalan lurus pun harus dikelola dan dimanajemeni dengan baik, karena kekuatan yang jahat yang terorganisir akan mengalahkan kekuatan yang baik yang tidak terorganisir. Kekuatan yang jahat kenyataannya juga selalu membenahi diri untuk melawan kekuatan baik. Dengan berbagai cara, mereka berupaya melakukan semua hal yang memungkinkan kebaikan dilawan. Hal lain yang tak kalah mengkhawatirkan, ternyata kekuatan yang buruk juga terus bertambah. Berbagai hal dilakukan untuk menangkal kekuatan buruk, seiring dengan perkembangannya yang terus meningkat.
Alasan terakhir ini membuat posisi kekuatan yang baik harus dikuatkan. Harus semakin banyak orang berada dalam barisan jalan yang lurus. Orang-orang yang baik jangan diam dan menutup sambil mengunci diri di rumah masing-masing. Mereka harus keluar untuk memperkuat barisan yang baik. Sebagaimana kata Saidina Ali, kekuatan yang baik itu harus diperkuat dan diorganisir dengan rapi agar menghasilkan sesuatu yang baik pula.
Jika orang bergerak untuk memperkuat barisan ini, maka jalan yang lurus bukan sesuatu yang sulit dicapai. Di samping itu, dengan organisir yang baik, kekuatan yang baik akan senantiasa dipilih oleh banyak orang.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.