Ruang Menyelamatkan Peradaban

Saya menyebut menyelesaikan sengkarut plagiat di negeri ini sebagai ruang dalam rangka menyelamatkan peradaban. Apalagi hal tersebut secara terorganisir di rumah yang sedang membangun peradaban. Lalu, apasih plagiat itu? Plagiat adalah menjiplak karya orang lain. …

Saya menyebut menyelesaikan sengkarut plagiat di negeri ini sebagai ruang dalam rangka menyelamatkan peradaban. Apalagi hal tersebut secara terorganisir di rumah yang sedang membangun peradaban.

Lalu, apasih plagiat itu? Plagiat adalah menjiplak karya orang lain. Ada tindakan yang dilakukan, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, mengambil dan menggunakan karya orang lain –termasuk pendapatnya—lalu menyajikannya seolah-olah milik yang bersangkutan. Sebagian orang menyebut plagiat ini termasuk pada idenya.

Dalam dunia akademis, berkembang istilah lainnya, yakni: Pertama, fabrikasi data, dimana kita membuat data-data yang sebenarnya fiktif. Di sini, sesuatu laporan yang dibuat, tapi menghadirkan data-data yang sesungguhnya tidak ada. Kedua, falsifikasi data, yakni dengan menyesuaikan data dengan keinginan. Apa yang kita temukan, bukan kita biarkan untuk menggambarkan temuan. Justru temuan tersebut kita paksanakan sesuai dengan keinginan kita.

Posisi plagiat (dan plagiarisme), sama seperti fabrikasi atau falsifikasi data di atas. Wujudnya dengan mengutip tapi tanpa memberikan sitasi yang secukupnya atau memadai. Dalam konteks plagiarisme, bisa saja diklasifikasi kepada empat ruang, yakni: (a) segi substansi, isi tentang apa yang diplagiasi; (b) segi kesengajaan pelaku; (c) segi besar kecilnya volume atau proporsi; (d) pola pencurian.

Yang menarik adalah penjelasan dalam pola pencurian, terbagi ke dalam dua bentuk, yakni: (a) sumber gagasan; (b) auto-plagiarisme atau self plagiarisme, dimana di sini dimaksudkan  karya yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya, namun dalam sitasi tidak disebutkan, padahal semestinya juga dicantumkan. Jadi di sini, tidak saja mengutip punya orang lain, mengutip tulisan kita sendiri tanpa memberikan sitasi yang cukup, juga bisa digolongkan ke dalam perbuatan tersebut.

Orang yang sudah pernah menulis tentang sesuatu, harus ditunjukkan bahwa sesuatu itu merupakan satu pencapaian. Ketika menulis hal yang sama, harus dimulai dengan menggambarkan apa yang sudah dicapai pada karya sebelumnya.

Saya kira, sebagian besar akan setuju bahwa penulis (apakah penulis populer maupun penulis ilmiah) haruslah jujur dan bernurani. Tidak boleh main-main. Sikap yang jujur, tentu saja yang dikongkretkan dalam perilaku nyata. Soalnya ada sebagian orang yang menyatakan tidak setuju, namun diam-diam melakukannya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment