Ada satu materi dalam mata kuliah saya mengurai tentang konektivitas ini. Ada keterkaitan yang membuat kondisi dari satu titik akan berpengaruh kepada titik yang lain. Dalam ilmu sosial, tersedia teori dan pendekatan untuk mengurai hal ini, antara lain dengan pendekatan fungsional. Pendekatan ini memperkenalkan seseorang, dalam melihat sesuatu, jangan pernah melupakan kaitannya dengan banyak hal di sekelilingnya.
Saya ingin menggambarkan posisi kita itu adalah suatu rangkaian semacam susunan tubuh. Dari ujung rambut hingga ujung kaki yang saling terkait. Selain hubungan erat antara jiwa dan raga, sebagaimana sudah saya sebut dalam tulisan sebelumnya. Sesuatu yang menimpa fisik, akan berpengaruh ke jiwa. Demikian juga sebaliknya. Sesuatu yang menimpa jiwa, akan turut membawa pengaruh ke fisik. Orang-orang yang tidak enak pikiran bisa disebabkan berbagai alasan, yang ujungnya bisa tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan.
Dalam konteks fisik, rasa sakit dirasakan seluruh tubuh walau hanya luka terjadi pada bagian tertentu saja. Duri yang tertancap di ujung jari, akan terasa hingga ke otak. Sesuatu yang masuk ke tubuh tidak semestinya, semisal tertinggal sedikit ujung duri, akan berimplikasi kepada hal yang lain, yakni infeksi. Bukankah hal-hal kecil kadangkala berpengaruh serius terhadap kesehatan kita?
Begitulah kehidupan. Semangat besar kadangkala hanya disebutkan oleh hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling kita. Aktivitas apapun yang kita lakukan, dengan sokongan orang-orang sekitar, akan menyebabkan aktivitas itu lebih bersemangat dilakukan. Bukan hanya itu, perasaan yang muncul dari kondisi semacam itu, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Sesuatu yang sebaliknya juga memungkinkan selalu terjadi. Kegagalan-kegagalan besar dalam beraktivitas, kadangkala disebabkan hal-hal yang sepele. Hal-hal kecil yang dilakukan tanpa mempertimbangan perasaan, bisa jadi akan menyebabkan sesuatu yang besar tidak bisa diwujudkan. Bagaimana seseorang menjalani kehidupan, bisa jadi rumit, namun tidak jarang tampak begitu sederhana.
Dalam ruang sosial, kondisi ini juga terjadi. Bahkan dalam konteks kejahatan, idealnya hal ini juga harus dilihat. Satu kejahatan, jangan dilupakan untuk dilihat apakah ia berdiri sendiri, atau jangan-jangan justru sebagai bagian dari satu rangkaian lainnya.
Ketika menyelesaikan satu hal, otomatis bukan dengan melupakan hal yang lain. Satu kejahatan, muncul bisa jadi karena dampak dari hal yang lain lagi. Maka idealnya, saat memperbaiki keadaan, tidak melupakan rangakaian keterkaitan ini secara utuh.