Sebenarnya, cerita ajudan ini ingin dibandingkan dengan cerita pembantu dalam rumah tangga –yang sekarang disebut sebagai asisten rumah tangga. Adanya tenaga ini, harusnya tidak membuat kita tidak bisa melaksanaan sendiri hal-hal kecil dan sederhana. Masalahnya adalah dalam kenyataan, untuk hal-hal kecil pun, sekarang ini harus dilaksanakan oleh ajudan.
Saya ingin bercerita dari satu kisah negeri di atas angin, saya dapat kabar yang sebenarnya sudah biasa. Tentang ajudan. Apalagi ketika masa otonomi ini, banyak negeri yang sudah mendapatkan pimpinan baru. Para tokoh yang lahir tiba-tiba, lantas mendapatkan fasilitas dan pelayanan mendadak, lalu muncul perilaku-perilaku yang kadang-kadang naif. Perilaku yang sama sekali tidak melanggar ketentuan, namun ambruk secara etika dan moral. Akan tetapi siapa yang peduli dengan moral?
Saya ingin menceritakan satu fenomena sederhana yang menggambarkan betapa moral manusia tidak sebanding ketokohannya. Bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Cerita ini tentang ajudan. Istilah ajudan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan dengan perwira yang diperbantukan kepada raja, presiden, atau perwira tinggi, biasanya diberi tugas mengurus segala keperluan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Istilah dalam tulisan ini saya sederhanakan. Ajudan adalah mereka yang melaksanakan dan bertugas secara khusus mendampingi dan mengurus keperluan pimpinannya. Sebagian menganggap ajudan ini hanya mereka yang secara khusus telah berstatus pegawai negeri. Sebagian menganggap tidak.
Masalahnya sekarang adalah ajudan tidak hanya disediakan untuk mereka yang sedang menjabat –terutama mereka yang memiliki jabatan penting. Ternyata ajudan juga disediakan untuk istri mereka.
Betapa terkejutnya saya mendapat kabar itu, apalagi jumlah ajudan untuk istri ternyata lebih banyak dari ajudan mereka yang menjabat. Untuk para pejabat, hanya ada dua ajudan saja. Satu ajudan bertugas untuk menata dan melayani orang yang berjanji dan berkepentingan untuk bertemu penjabat. Satu ajudan lagi mengatur agenda di luar dinas, terutama berhubungan dengan aktivitas lain dari yang bersangkutan di luar tugas-tugas kedinasannya secara langsung. Tugas ini sebenarnya pada akhirnya juga terkait dengan dinas, karena keberhasilan di luar dinas biasanya akan turut mempengaruhi keberhasilan dinas. Demikian juga sebaliknya. Itu jumlah ajudan pejabat.
Sementara untuk istri, ada sekitar empat ajudan. Ada ajudan untuk mengkoordinir persoalan dapur. Ada ajudan yang mengharmonisasikan jadwal rumah tangga dengan jadwal penjabat. Ajudan lainnya untuk mengatur kepentingan keluarga besarnya. Dan yang terakhir, ajudan untuk dibawa dalam setiap kunjungan. Lantas, adakah kunjungan dari istri para pejabat? Ternyata ada. Hampir setiap kunjungan penjabat mengharuskan ikutserta istri. Hanya kunjungan tertentu saja yang tidak.
Di luar itu, ternyata ada kunjungan tersendiri para istri. Nah dalam tugas-tugas kunjungan itulah, biasanya kelakuannya terlihat. Malah yang menarik, ketika melakukan kunjungan, jumlah ajudan ternyata bisa bertambah. Khususnya ajudan para istri, ada ajudan untuk memegang tas jinjing, ajudan yang bertugas membayar kebutuhan, bahkan ada ajudan yang hanya memegang payung atau sapu tangan. Apalagi dalam kunjungan kerap menjabat banyak tangan. Setelah berjabat tangan, terutama dengan ibu yang memiliki anak kecil, langsung harus dibersihkan, bila perlu mencuci tangan dengan sabun kelas satu. Barangkali, suatu saat nanti, ketika para pejabat juga berganti, polah juga berubah. Bisa jadi ada ajudan yang tugasnya mengipas atau memegang kipas angin saja, atau bahkan hanya memegang pewangi.
Pada posisi yang demikian, ajudan juga tidak berbeda dengan profesi pembantu yang seolah harus melakukan apapun. Padahal banyak hal orang bisa melakukan sendiri. Hal-hal kecil yang harusnya tidak ada urusan dengan ajudan.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.