Apapun posisi kita, seyogianya untuk hal-hal kecil bisa dilakukan sendiri. Orang-orang yang memiliki kekayaan lebih, atau mereka yang punya banyak urusan, biasanya akan memakai sejumlah orang untuk membantunya. Orang-orang yang membantu di rumah, sering disebut dengan pembantu.
Tidak ada yang berlebihan dengan istilah pembantu. Orang-orang yang membantu. Namun dalam konteks profesi, ia cenderung diposisikan rendah. Orang-orang yang membayar pembantu, memosisikan seolah-olah mereka sebagai orang yang tidak memiliki pilihan.
Kesadaran akan posisi manusia, kata ini, seiring dengan perkembangan zaman, berubah dan bertransformasi. Kata yang digunakan sekarang ini, asisten rumah tangga. ART. Di kalangan atas, istilah bisa terus berubah. Tetapi di kalangan bawah, perubahan tidak bisa berlangsung dengan cepat. Sejumlah kalangan bawah, masih menggunakan perspektif lama: pembantu.
Mereka yang bekerja pada keluarga orang terkenal, tampilan jauh berbeda. Apa yang ditampilkan, dalam kajian sosial, tentu tidak selalu sebagai apa adanya. Apalagi dalam keluarga yang sudah terbiasa dengan sandiwara, tampilan di depan, biasanya sudah sudah dikondisikan dan itu berbeda dengan tampilan aslinya. Namun demikian, saya tetap berharap bahwa apa yang terlihat di layar kaca, cermin utuh dari mereka yang melakoninya. Mereka yang enjoy dan tampak sumringah, hendaknya begitulah adanya dalam realitas kehidupan mereka.
Tentu saja, istilah yang digunakan berimplikasi pada cara pandang. Tetapi orang kampung, tetap akan tanya: apa bedanya? Perlakukan, bisa jadi tidak sepenuhnya berbeda, namun pemosisian orang, harusnya berubah ke arah yang lebih baik. proses menjadikan manusia menjadi manusia.
Pemosisian ini sendiri tidak ingin seolah meniadakan putusnya hubungan saling membutuhkan. Dalam posisi profesi, perspektif diharapkan akan membuat perlakuan menjadi berbeda. Catatan ini menjadi sangat penting.
Seandainya kita jujur, ada hubungan yang saling membutuhkan. Orang-orang yang berkelebihan secara materi, membutuhkan andil orang lain di sekitarnya. Banyak yang terhambat, saat orang-orang yang dibutuhkan tenaganya tidak tersedia. Mereka tidak mungkin melakukannya sendiri berbagai hal.
Orang-orang yang memiliki ekonomi berlebih –ekonomi yang saya maksudkan tentu saja uang—tidak bisa melaksanakan semua hal sendiri. Bahkan oleh keluarganya. Soal waktu, menjadi alasan utama. Mereka sudah menggunakan waktu dengan ketat untuk berbagai kepentingan yang lain. Mereka sudah bicara efisiensi. Jika ada sesuatu yang bisa dikerjakan oleh orang lain, dan dengan begitu mereka bisa bekerja untuk pendapatan yang lebih besar, maka jalan itu akan dipilih. Saya kira rumus demikian menjadi sesuatu yang biasa.
Catatan saya, hanya pada soal saling membutuhkan sebagai hal penting yang jangan dilupakan. Seberapa pun kita bisa membayar keringat orang lain, jangan sampai kita berpikir mereka tidak bermartabat –apalagi kalau berpikir mereka bukan selevel manusia.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.