Kecerdasan Buatan

Tersebutlah yang namanya kecerdasan buatan. Lalu, tampak pula berbagai ancaman terhidang di depan mata. Orang memperbincangkan bagaimana kemajuan hasil teknologi senjata, dengan berbagai perkembangan resep kode rahasia. Lingkungan hidup sedang merana karena manusia memosisikannya suka-suka. …

Tersebutlah yang namanya kecerdasan buatan. Lalu, tampak pula berbagai ancaman terhidang di depan mata. Orang memperbincangkan bagaimana kemajuan hasil teknologi senjata, dengan berbagai perkembangan resep kode rahasia. Lingkungan hidup sedang merana karena manusia memosisikannya suka-suka. Keserakahan manusia berkontribusi menaik-lipat-gandakan gas rumah kaca yang semakin tidak terbendung. Air laut lalu naik yang disebabkan mencairnya es kutub. Daerah beku sudah banyak meleleh akibat suhu bumi yang terus naik. Dunia semakin panas, dengan keadaan cuaca yang sering tidak bisa diprediksi.

Dalam kitab al-Quran sudah diperingatkan bahwa kerusakan bumi akibat ulah tangan manusia. Wujudnya ada berbagai macam dan cara. Namun sepertinya, keserakahan menjadi kata kunci utama. Keserakahan ingin di depan, ingin menguasai umat manusia, ingin selalu heroik dalam memainkan gendang perang, dan ingin menjadi pemenang dalam setiap permainan catur dunia.

Dan, kecerdasan buatan manusia itu disebut Stephen Hawking, seorang ahli fisika teoritis di Universitas Cambridge. Orang yang tidak mau berelasi dengan isi kitab suci. Dalam Tempo, 4 Desember 2016, yang mengutip sebuah opini dari The Guardian, ilmuwan Stephen Hawking menyebut bahwa teknologi dan globalisasi mempengaruhi orang secara buruk. Teknologi telah membawa banyak perubahan bagi manusia. Dalam 20 atau 30 tahun terakhir, perkembangan teknologi seolah berlipat –tidak sebanding dengan perkembangan dari tahun-tahun sebelum itu. Teknologi yang menjadikan dunia seolah bisa dimasukkan dalam kantong pakaian –mengutip istilah Piliang. Betapa keadaan dunia di mana pun, semakin cepat bisa diketahui oleh manusia yang berada di kawasan lain. Apa yang terjadi di satu titik, dengan cepat diketahui dan dilihat visualnya di titik yang lain. Jarak semakin bisa dipangkas dengan adanya teknologi. Industri penerbangan juga membuat jarak dari yang ditempuh bisa semakin cepat.

Lalu ada hal lain yang juga digelisahkan. Menurut Hawking, “Otomatisasi pabrik telah menghancurkan di bidang manufaktur tradisional, dan munculya kecerdasan buatan kemungkinan akan memperpanjang kehancuran pekerjaan ini lebih jauh pada kelas menengah, dengan hanya peran pengawasan atau peran paling kreatif dan paling peduli yang tersisa”. Ia antara lain menyebut dua hal: “merusak secara sosial” dan “kegilaan yang diciptakan manusia”. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan automatisasi teknologi. Dalam bahasa sederhana disebutkan, kecerdasan buatan itu mengancam profesi kelas menengah.

Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah. Dalam International Congress tentang Global Futures 2045, sebuah konferensi futuristik yang digelar di Amerika Serikat tanggal 14-15 Juni 2013, antara lain mengemuka tentang pencapaian keabadian digital pada tahun 2045. Teknologi kunci yang mendukung untuk itu adalah pengunggahan pikiran ke dalam dunia digital. Bagi seorang Hawking, hal yang terakhir disebut sebagai keyakinannya sebagai zaman yang disebut sebagai era keabadian –sebuah keyakinan yang berbeda dari apa yang saya yakini berdasarkan yang saya baca dari kitab suci.

Apa yang seharusnya disalahkan? Tentu bukan pada kecerdasan manusia yang berhasil menemukan banyak hal dari waktu ke waktu, melainkan pada bagaimana manusia memperlakukan temuan-temuannya itu. Temuan yang belum bisa kita bayangkan apa lagi ledakan revolusi teknologi yang akan terhidang di depan kita dalam waktu dekat ini.

Barangkali banyak sekali kegilaan yang sudah diteguhkan oleh manusia, baik untuk tujuan baik atau sebaliknya. Dan berbagai kegilaan tersebut, pada akhirnya akan dipungut hasilnya oleh manusia itu sendiri.

Leave a Comment