Ketika menyelesaikan kolom ini, ada seorang yang saya kenal tiba-tiba melihat layar laptop saya. Secara tak sengaja ia menoleh ke arah draf yang saya buat ini. Baginya, ia tiba-tiba berkomentar, kata proyek senjata itu tidak menarik. Istilah menarik tidak untuk menggambarkan suka atau tidak, melainkan pada istilah yang baginya agak nyinyir sebagai manusia. Ia merasa senjata sangat dekat dengan kekerasan. Makanya ketika seseorang menyebut dengan kata senjata, maka ia selalu berhubungan dengan yang namanya kekerasan itu. Namun ia tidak lagi berkomentar, ketika ia saya sasar dengan pertanyaan: lalu benarkah tidak ada lagi proyek perlombaan senjata?
Diskusi kami tidak berlanjut waktu itu. Dengan telepon pintar, saya mencoba membuka layar Youtube –sebuah perusahaan yang kemudian dibeli Google dengan harga US$1,65 miliar, yang memberi layanan penyimpanan dan berbagi video. Perusahaan ini didirikan 14 Februari 2005, dengan markas di California, Amerika Serikat. Ada tiga pendiri: Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim, dengan CEO saat kolom ini diisi, dipegang Susan Wojcicki. Mereka sudah memakai 54 bahasa antarmuka pengguna. Melalui layar Youtube, saya mencoba mencari sejumlah narasi terkait dengan hal ini. Melalui layar ini pula, sedikit tergambar betapa banyak negara sedang berlomba untuk meningkatkan senjatanya.
Masing-masing negara memiliki program untuk memperkuat senjata. Ada yang bergerak dalam konteks makro, pun tidak sedikit negara yang juga bergerak dari konteks mikro. Akan berbeda posisi dan bergerak mempersiapkan diri, dari titik pandang apa memulai. Indonesia sendiri termasuk yang mempersiapkan dua-duanya, melalui alat utama sistem pertahanan (alutsista). Negara kita banyak bergerak untuk meningkatkan alutsista ini, walau diakui masih minimal. Tantangan terlalu besar, dengan luas Indonesia yang luar biasa, tersusun dari pulau-pulau yang berjajar dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote. Terdapat 17.504 pulau. Luas daratan mencapai 1.919.440 km2. Luas laut 3.257.483 km2. Dengan luas demikian, banyak pihak berharap Indonesia memiliki alutsista yang memadai, dalam rangka mengamankan, terutama penganggu dari luar. Di pihak lain, menurut ahli sosial, pengganggu dari dalam juga tidak sedikit.
Bukankah ketika semua negara menggantungkan pada kepemilikan dan teknologi senjata, sebenarnya sedang berlangsung sesuatu di dunia ini? Apakah dalam ruang lahir maupun dalam relung batin? Jika kenyataan itu disederhanakan, maka masing-masing negara seolah memiliki goncangan dan berhadapan dengan suasana yang sama, yakni potensi perang.
Entah kita setuju atau tidak dengan potensi suasana tersebut, tetapi ketika dicoba ingat-ingat ke belakang, ketika Indonesia bersama sejumlah negara di Dunia Ketiga memilih berdiri pada posisi nonblok akhir abad ke20, rasanya sulit ditampik kenyataan ini. Ketika nonblok muncul, perang dingin masih berlangsung. Perang yang berlanjut dari potensi perang fisik, kemudian menguat pada tidak sedikit corak perang dalam wajah mental dan psikologis.
Perang sudah mulai ditolak dimana-mana, namun perang berlangsung dimana-mana. Saya semakin sadar bahwa sejak teknologi senjata ditemukan, ternyata perkembangan dalam waktu terakhir sedang berlipat ganda. Senjata api sudah ditemukan pada abad ke-14. Sepanjang enam abad terakhir, produksi senjata api dengan berbagai wujudnya berlangsung serius dan masif. Akhir abad ke-20, wajah berlipat ganda kemajuan senjata menampakkan garangnya. Tanggal 16 Juli 1945, bom atom pertama berhasil diledakkan dalam ujicoba di Alamogordo, New Meksiko. Ujicoba ini bukan ujicoba biasa. Ia sebagai suatu ujicoba yang sangat serius.