Sebagian orang bisa sangat egois dalam mengungkapkan kesuksesan. Apapun yang dicapai dalam hidupnya, seolah tidak ada peran orang lain. Semuanya seolah bisa dicapai atas usaha sendiri. Termasuk tentang peran orang-orang yang ada di sekitar kita.
Soal kesuksesan juga satu hal. Orang bisa mempertanyakan keadaan sukses. Tidak semua satu pendapat. Jika ditanyakan pada banyak orang, mereka memiliki masing-masing pendapat. Ada yang menganggap yang baru dikatakan sukses ketika memiliki mobil mewah dan rumah megah. Sebaliknya ada orang yang beranggapan bahwa yang namanya sukses, ketika ia tidak merasa dikejar-kejar kebutuhan dan keinginan dalam hidup. Tidak sedikit orang yang berpikir, mencapai sukses ketika seseorang sudah mempersiapkan kehidupan akhiratnya.
Semua tujuan itu, tentu tidak mungkin dicapai sendiri. Pilihan apa saja cara pandang kita terhadap sukses itu, selalu ada banyak peran di dalamnya. Biar pun sukses itu soal materi atau sukses akhirat, tidak bisa dipungkiri adanya berbagai peran itu.
Soal peran sendiri, ada yang terlihat, namun tidak sedikit yang justru tidak terlihat. Berbagai peran tidak langsung maupun langsung akan menentukan seseorang mencapai apa yang disebutnya sebagai sukses. Orang memiliki kesadaran tentang ini, namun tidak semua berani untuk mengakui.
Dengan demikian, jelas ada banyak hal yang saling berpengaruh satu sama lain, dalam rangka mencapai kesuksesan hidup kita. Sekali lagi, kesuksesan dalam hal ini tak semata diukur oleh dua hal yang jamak dipandang sebagai simbol sukses, yakni kekayaan dan kekuasaan. Dua hal ini terlanjur dianggap oleh kita sebagai dua hal yang sangat menentukan sukses. Bahkan ia dijadikan alat ukur untuk seseorang ketika pergi ke manapun, lalu ketika pulang akan ditanyakan oleh orang-orang sebesar apa kekuasaan dan kekayaan yang sudah ditumpuk, karena ia menjadi cermin ia sukses merantau.
Dalam perkembangannya, sukses ternyata tak hanya sebatas itu. Sukses tak hanya demikian. Orang yang berpikir dan berhenti ukuran sukses pada dua hal itu (kekayaan dan kekuasaan), mereka sangat materi dalam melihat ukuran kesuksesan. Banyak orang kita berubah ukuran. Kesuksesan mulai dikaitkan dengan hal lain, semisal perilaku baik dan sukses dalam membawa seseorang kepada kebahagiaan. Kebahagiaan di sini juga bukan soal seseorang memiliki uang dan kekuasaan. Kebahagiaan tanpa batas belum tentu dapat dirasakan oleh mereka yang memiliki uang dan kuasa, melainkan orang-orang biasa bahkan orang yang tidak memiliki harta apa-apa.
Untuk mencapai kesuksesan yang demikian, selain berharap penuh, harus disertai dengan usaha. Tidak boleh orang hanya berhenti dengan berdoa saja tanpa berikhtiar dan berusaha sekuat tenaga. Sukses diperoleh dengan perpaduan ikhtiar dan berdoa. Ikhtiar dan berdoa ini sendiri berpengaruh bagi seseorang untuk memperoleh semakin besar semangat –suatu keadaan yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu dengan usaha penuh dan kerja keras. Semangat akan turut menentukan seseorang tidak mudah putus asa atas apa yang diusahakannya. Dengan kata lain, semangat akan memperbesar potensi seseorang untuk berusaha tiada henti. Melakukan sesuatu dengan penuh harapan agar tercapai. Seseorang yang yakin apa yang dilakukan akan berhasil, akan membuka peluang lebih besar dalam pencapaiannya. Sebaliknya mereka yang berpikir setengah-tengah atau malah pasrah atas apapun yang terjadi, maka keberhasilan semakin kecil peluang.
Dalam pencapaian ini sendiri turut ditentukan beberapa faktor yang tidak boleh dilupakan. Lingkungan sekitar kita. Pengaruh orang yang disekitar kita akan menentukan sebesar apa semangat kita yang ada. Tak jarang ada orang di sekeliling kita yang justru membuat kita kehilangan semangat, dan semacamnya. Posisi orang-orang yang menjadi teman kita sangat penting. Orang yang berteman dengan orang lain, seperti kita berteman dengan penjual sayur nangka dan minyak wangi. Ketika berkunjung ke teman yang berprofesi yang menjual sayur nangka, sedikitnya kita akan merasakan bagaimana getah nangka itu. Sebaliknya, ketika berteman dengan mereka yang menjual minyak wangi, paling tidak wanginya kita akan turut kecipratan.
Begitulah kiranya harapan bagi kita. Harus ada rasa optimis bahwa segala sesuatu yang kita usaha akan tercapai pada akhirnya. Dengan perasaan optimis itu akan membuat semua bergerak dan berusaha keras dan lebih keras untuk mencapainya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.