Hari ini merasakan sejumlah kegeraman. Di dalam kelas, sejumlah mahasiswa sibuk dengan telepon pintar. Mereka sibuk sendiri. Saat ditegur, berhenti sebentar. Lalu, mungkin dengan tidak bisa mengontrol dirinya, mulai pegang-pegang lagi. Orang bilang, kita sedang berhadapan dengan satu generasi yang tidak bisa lepas dari telepon pintar. Sampai-sampai dengan alat itu, untuk menghormati orang lain saja sudah tidak mampu.
Saya respek untuk mereka yang tekun. Bukan soal cerdas. Mahasiswa bisa lebih cerdas dari dosennya. Saya sering memberi kesempatan untuk mahasiswa untuk melakukan presentasi bahan kuliah. Ada yang mampu. Tetapi pengalaman saya, sebagian besar dari mereka tidak mau tahu. Sekali lagi, bukan tidak mampu. Jika dipaksa, sebagian juga jadi suka-suka. Mereka bukan membaca dari bahan yang dibagikan. Mereka akan bertanya ke mesin penyedia pengetahuan.
Sayangnya kondisi ini kadang-kadang tidak hanya pada mahasiswa sarjana. Bahkan kelas yang pasca pun, ada yang bermentalitas sama. Sejumlah pengalaman saya juga begitu. Berbagi dan berdiskusi bahan di awal kuliah. Lalu ketika menyiapkan bahan presentasi, bukan berdasarkan dari bahan bacaan, tetapi dari mesin pengetahuan. Hal yang sama berlaku dalam hal tidak lepas dari telepon pintar.
Rasanya alat teknologi ini bukan hanya di ruang kelas. Bahkan di ruang saat sedang berjumpa dengan “Tuhan” sekali pun, tidak semua orang mampu menahan diri dari telepon pintar. Makanya di satu masjid, saya jumpai tulisan di dindingnya, “tiada call yang lebih penting selain panggilan Tuhan”. Namun, dalam masjid pun, manusia menonton youtube, tiktok, dan sebagainya.
Apalagi dalam ruang belajar. Seorang guru sekaligus kolega saya di kampus, sering tidak bersedia mengajar jika di kelas para mahasiswa hanya sibuk dengan alat komunikasinya. Beliau ini tak hanya sekali. Sudah berpengalaman berkali-kali.
Masalahnya adalah para dosen dan guru ada yang berperilaku begitu. Sedang mengajar mengangkap telepon, dan semacamnya. Sedang mendengar orang lain sambil membalas pesan. Ini bentuk-bentuk kondisi tidak sehat yang harus disehatkan.
Tetapi sebenarnya bukan hanya di kampus. Malam ini saat ikut pengajian satu pengajian di masjid dekat warung kopi, ada jamaah juga yang sibuk dengan telepon pintarnya. Bahkan seorang jamaah, berpeci, bersarung, menjawab panggilan dengan menggelegar. Kami yang berada di sekelilingnya terdengar apa yang dibicarakan. Padahal saat itu, teungku sedang menjelaskan kajian tafsir di depan.
Begitulah potret, betapa telepon pintar itu telah menjadikan kita menjadi tidak pintar. Bahkan orang pintar sekalipun, sepertinya pintarnya sudah tidak mampu dikelola dan berpindah ke telepon. Jadi yang disebut pintar sekarang adalah telepon. Mereka yang berperilaku tidak pintar di atas, pintar itu sudah diambil paksa oleh telepon.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.