Pendidikan dan Pekerjaan

Pendidikan dan pekerjaan, idealnya adalah dua hal berbeda. Namun bagi mereka yang bekerja mengelola administrasi kampus, pendidikan dan pekerjaan harus bisa dipaksa untuk dilihat dalam satu ruang. Dalam administrasi pengelolaan kampus, semakin tinggi para lulusan …

Pendidikan dan pekerjaan, idealnya adalah dua hal berbeda. Namun bagi mereka yang bekerja mengelola administrasi kampus, pendidikan dan pekerjaan harus bisa dipaksa untuk dilihat dalam satu ruang. Dalam administrasi pengelolaan kampus, semakin tinggi para lulusan tertamping di dunia kerja, kampus itu dianggap paling berhasil. Indikator ini juga yang digunakan untuk mengukur pencapaian akreditasi suatu kampus. Dalam realitas, walau tidak diakui secara nyata, perwujudan itu sangat sulit. Kampus-kampus lalu melakukan modifikasi. Misalnya, sebanyak mungkin para lulusan diperlakukan seolah-seolah sudah memiliki pekerjaan.

Dalam hal administrasi tadi, pekerjaan yang dimaksud sangat penting, walau ia tidak selaras dengan esensi dari bidang kajian. Lulusan bidang ilmu tertentu tetap digunakan data sebagai orang yang sudah bekerja, walau yang dilakukan dalam dunia kerja bukan atas dasar apa yang diperolehnya di lembaga pendidikan. Ketika data digunakan, soal gap bidang (antara ilmu dan pekerjaan), tidak dipermasalahkan. Tetapi dalam konteks pelaksanaan administrasi pendidikan, justru pertanyaan itu penting di awal. Bidang-bidang ilmu yang dianggap tidak berkorelasi dengan dunia kerja, ia akan dianggap benalu –bahkan mungkin suatu saat akan diposisikan sebagai bagian dari yang tidak dibutuhkan.

Saya kadang-kadang menanyakan ke kolega, apakah bidang kerja yang dibayangkan itu akan selalu selaras dengan semua era. Saya kira tidak. Jangan sampai ada anggapan bidang ilmu favorit seperti kedokteran, selamanya akan menampung walau tidak selaras dengan kebutuhan. Kampus yang menyediakan bidang kedokteran pasti semakin bertabur. Lantas bagaimana bisa diklaim bidang ilmu ini juga akan terjamin langsung selaras dengan dunia kerja.

Contoh ini penting karena selama ini, semua kampus menempatkan bidang ilmu itu sebagai pilihan utama paling banyak setiap ujian penerimaan mahasiswa baru. Saya tidak tahu apakah pengelola administrasi kampus memikirkan bagaimana konsep distribusi dan selaras dengan dunia kerja ketika muncul pertanyaan (seperti yang saya tanyakan) di atas.

Dengan menghargai cara pandang para pengambil kebijakan, upaya pengerdilan ilmu, bagi saya penting untuk dikoreksi. Semua ilmu harus dimuliakan. Walau dalam sisi cara pikir tertentu, tidak semua ilmu dibutuhkan dan menjadi kewajiban setiap orang. Tidak boleh menganggap ada ilmu yang tidak ada pentingnya. Jangan sampai mereka yang menekuni bidang ilmu tertentu, lantas menganggap bidang ilmu lain sebagai sampah.

Cara berpikir ini yang harus bisa direkonstruksi dari seorang yang berada di lembaga pendidikan. Sungguh jika ada orang yang berada dalam lingkungan pendidikan, yang harusnya memuliakan ilmu, justru sebaliknya. Ilmu akan memudahkan seseorang hidup dan berkehidupan. Orang tua kita dulu mengingatkan, ilmu itu penting bagi kita untuk jujur pada diri sendiri dan jujur bagi orang lain. Bek peungeut gop dan bek dipeungeut le gob.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment