Belajar Keterukuran dari Evaluasi Diri Jurnal

Saya kira menarik, mempelajari apa yang sebenarnya substansi dari evaluasi diri pengelolaan jurnal saat pengajuan akreditasi. Terutama bagi jurnal, akreditasi merupakan bentuk dari penilaian dan pengakuan formal dari lembaga yang berwenang untuk itu, dengan menyatakan …

Saya kira menarik, mempelajari apa yang sebenarnya substansi dari evaluasi diri pengelolaan jurnal saat pengajuan akreditasi. Terutama bagi jurnal, akreditasi merupakan bentuk dari penilaian dan pengakuan formal dari lembaga yang berwenang untuk itu, dengan menyatakan bahwa suatu jurnal tersebut telah memenuhi standar kualitas tertentu yang ditetapkan. Tujuan besarnya adalah memastikan mutu agar penerima manfaat mendapatkan layanan yang layak.

Berdasarkan indikator akreditasi yang digunakan sebelumnya saat masih menggabungkan antara terbitan daring dan cetak, ada delapan hal yang dinilai dalam sebuah jurnal: (1) penamaan terbitan berkala ilmiah; (2) kelembagaan penerbit; (3) penyuntingan dan manajemen pengelolaan terbitan; (4) substansi artikel; (5) gaya penulisan; (6) penampilan; (7) keberkalaan; (8) penyebarluasan.

Dalam hal penamaan, nilai maksimal [bobot 3] bisa didapat jika spesifik sehingga mencerminkan spesialisasi disiplin ilmu tertentu. Sedangkan nilai paling tinggi [bobot 4] untuk pranata penerbit, jika sebuah berkala ilmiah diterbitkan oleh organisasi profesi ilmiah –jika bekerja sama dengan perguruan tinggi, bobotnya [3].

Untuk penyuntingan dan manajemen pengelolaan terbitan, terdapat enam hal yang dinilai, yakni: (1) pelibatan reviewer berkualifikasi internasional lebih 50% akan mendapat nilai terbanyak [bobot 5]; (2) peran ketat secara reviewer dalam menilai artikel [bobot 2]; (3) lebih 50% penyunting pernah menulis pada jurnal internasional [bobot 3]; (4) petunjuk penulisan yang sangat sistematis dan lengkap beserta contoh dan template, akan mendapat nilai maksimal [bobot 2]; (5) mutu penyuntingan gaya dan format yang baik sekali dan konsisten akan maksimal nilai [bobot 2]; (6) menggunakan proses online penuh akan mendapat nilai maksimal [bobot 3].

Terkait substansi artikel, ada sembilan hal yang dinilai, yakni: (1) cakupan keilmuan yang superspesialis mendapat nilai maksimal [bobot 4]; (2) aspirasi wawasan internasional [bobot 6]; (3) memuat artikel yang orisinalitasnya tinggi [bobot 6]; (4) sumbangan yang sangat nyata bagi kemajuan ilmu (bobot 3]; (5) dampak ilmiah yang sangat tinggi, diukur jumlah sitasi lebih 25 [bobot 5]; (6) nisbah acuan primer berbanding sumber lain mencapai 80% (bobot 4]; (7) derajat kemutakhiran pustaka acuan di atas 80% [bobot 5]; (8) analisis yang baik [bobot 3]; (9) penyimpulan dan perampatan yang baik [bobot 3].

Selain itu, untuk gaya penulisan, ada sembilan item: (1) keefektifan judul artikel, yang luhas dan informatif mendapat bobot [1]; (2) pencantuman nama dan lembaga penulis secara lengkap dan konsisten, berbobot [1]; (3) abstrak yang jelas dan ringkas dengan menggunakan bahasa Indonesia dan/atau Inggris mencapat nilai [bobot 2]; (4) tersedia kata kunci, konsisten dan mencerminkan konsep penting dalam artikel [bobot 1]; (5) sistematika penulisan yang lengkap dan bersistem baik [bobot 1]; (6) pemanfaatan instrumen pendukung yang informatif dan komplementer [bobot 1]; (7) cara pengacuan dan pengutipan, dengan baku, konsisten, serta menggunakan aplikasi [bobot 1]; (8) penyusunan daftar pustaka yang baku, konsisten, dan menggunakan aplikasi [bobot 1]; (9) peristilahan dan kebahasaan, berbahasa Indonesia atau berbahasa PBB dengan baik dan benar [bobot 2].

Seterusnya untuk penampilan, enam hal yang dinilai: (1) ukuran bidang tulisan yang konsisten dan berukuran A4 [bobot 1]; (2) tata letak yang konsisten antarartikel dan antarterbitan [bobot 1]; (3) tipografi yang konsisten antarartikel dan antarterbitan [bobot 1]; resolusi dokumen pdf versi daring, konsisten, berkualitas tinggi, dan berkualitas tinggi pada kertas coated paper [bobot 2]; (5) jumlah halaman perjilid atau volume lebih dari 500 [bobot 2]; (6) desain website dan sampul berciri khas dan memberikan informasi yang jelas [bobot 1].

Untuk keberkalaan: (1) jadwal penerbitan sesuai waktu yang ditentukan lebih 80% [bobot 2]; (2) tata penomoran penerbitan baku dan konsisten [bobot 2]; (3) penomoran halaman berurut dalam satu volume [bobot 1]; (4) berindeks subjek dan pengarang secara rinci [bobot 1].

Terakhir penyebarluasan: (1) jumlah kunjungan pelanggan yang terbit daring rerata perhari lebih 50 pengunjung [bobot 4]; (2) pencantuman lembaga pengindeks internasional bereputasi tinggi [bobot 5]; (3) memiliki DOI tiap artikel [bobot 1].

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment