Seorang jurnalis Harian Waspada, Munawardi Ismail, menulis satu tulisan yang berjudul sama seperti judul kolom saya ini: “Di Balik Toga Profesor”. Tulisan ini naik setelah dua hari saya dikukuhkan. Ia teman saya sejak lama. Saat masih mahasiswa dan saya pernah nyambi beberapa waktu sebagai wartawan. Saat itu kami sering meliput dan berdiskusi bersama. Kami berjuang dengan kebutuhan yang sama: antara lain biaya untuk meringankan kiriman orang tua saat kuliah. Selengkapnya, isi tulisan bisa dibaca pada link: https://www.waspada.id/berita/di-balik-toga-profesor.
Dalam artikel tersebut, ia menyebutkan bahwa ada momen-momen tertentu dalam hidup yang membuat seseorang berhenti sejenak dari rutinitasnya. Bukan karena kelelahan, melainkan karena ia sedang dihadapkan pada sesuatu yang mengingatkannuya tentang arti sebuah perjalanan.
Munawardi yang turut saya undang untuk menyaksikan pengukuhan, menuliskan dalam tulisannya bahwa di tengah prosesi akademik yang berlangsung khitmad, satu per satu nama dipanggil untuk menerima pengukuhan sebagai profesor. Toga dikenakan, kalung jabatan disematkan, lalu tepuk tangan bergema memenuhi ruangan. Namun di balik seluruh seremoni itu, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukanlah sekadar pencapaian akademik. Yang hadir di hadapan kami adalah kisah panjang tentang ketekunan, kesabaran, dan konsistensi yang dijaga selama bertahun-tahun. Ini yang sering kali luput terlihat ketika seseorang akhirnya berdiri di puncak. Tidak salah apa yang ia tuliskan.
Sebagaimana dalam tulisannya, ia menceritakan profesi kami yang pernah sama. Selain itu, ia ungkapkan saya juga menulis opini, sekaligus pegiat literasi yang nyaris tidak pernah berhenti menulis. Yang menarik, ada satu ingatannya yang disampaikan dalam tulisan itu. Suatu ketika saya pernah bercerita, ada orang-orang yang bertanya mengapa dalam satu bulan terakhir tidak menemukan tulisannya. Pertanyaan itu tentu tak sederhana. Pertanyaan tersebut menandakan bahwa orang-orang membaca apa yang dituliskan. Pertanyaan semacam itu sebagai pengingat bahwa yang dikerjakan, ternyata dibaca, dinanti, dan dihargai.
Hal lain yang juga diungkapkan adalah soal undangan yang selalu saya sampaikan jika ada peluncuran buku. Setiap ulang tahun, plus sejumlah even tertentu, saya berusaha mengingatnya dengan buku. Orang menyebutnya seperti tradisi. Saya berusaha merawat itu sebagai bagian dari literasi. Saat pulang kuliah, ketika kesempatan menulis lebih banyak, tahun 2019, bisa menerbitkan 44 buku pada milad ke-43 dengan dibantu Bandar Publishing. Penerbit yang awalnya kecil, kini menjelma menjadi perawat peradaban dan telah menerbitkan lebih seribu buku dari penulis Aceh dan nasional.
Terima kasih sahabat Munawardi Ismail, yang mengingatkan saya bahwa “pelajaran terpenting yang saya bawa pulang pagi itu adalah bahwa hidup tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat seseorang berlari, melainkan oleh kemampuannya untuk terus berjalan ketika banyak orang memilih berhenti”.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.