Wajah Berbeda dari Orang Penting

Sepertinya, setelah berjumpa dengan orang ini, cara pikir saya terhadap orang-orang penting harus sedikit berubah, atau bergeser. Jika banyak orang penting yang semakin sulit bisa ditemui, berinteraksi, bahkan bersosialisasi dalam komunitasnya, ternyata di sela-sela itu, …

Sepertinya, setelah berjumpa dengan orang ini, cara pikir saya terhadap orang-orang penting harus sedikit berubah, atau bergeser. Jika banyak orang penting yang semakin sulit bisa ditemui, berinteraksi, bahkan bersosialisasi dalam komunitasnya, ternyata di sela-sela itu, kita akan menjumpai kondisi sebaliknya: ada orang penting yang lebih ramah dan familiar.

Saya mendapatkan pengalaman ini ketika sedang menunggu jadwal kereta. Saya duduk di satu barisan kursi yang terletak di belakang tiang besar stasiun kereta. Bangku itu terdiri atas empat kursi yang berdempet. Tiga sudah terisi, hanya di samping saya, persis ada satu kursi tersisa.

Seorang yang sudah tua, tiba-tiba datang dengan senyum mengembang, memulai dengan memohon maaf, menanyakan apa di samping saya ada yang duduk. Saya memperhatikan senyumnya yang sangat tulus. Saya jawab tidak ada yang duduk sambil saya persilakan beliau duduk di kursi ini.

Pelan-pelan ia letakkan barang –mungkin satu televisi tipis—di samping tempat duduknya. Senyumnya tiada henti seraya tangannya mengajak bersalaman. Pengalaman yang membuat saya begitu bahagia.

Ia mulai berbicara dengan hangat bahkan ketika saya belum katakan apa-apa setelah itu, “saya mau ke Yogyakarta”.

Sebelum saya sempat menyambung, ia meneruskan, “istri saya sedang di Yogyakarta, menemani cucunya, karena ibunda mereka meninggal sebulan yang lalu”.

Saya baru sempat menjawab, “semua milik Allah pak,” dan ia menjawab sekaligus mengangguk, “terima kasih”.

Saya tidak kenal dengan orang ini. Namun entah kenapa, saat itu, saya katakan ke beliau: “Mohon maaf pak, saya sering melihat bapak di televisi. Wajah bapak tidak asing bagi saya. Tetapi mohon maaf, saya ingin mengingat dulu siapa nama bapak”.

Permintaan saya ini membuatnya tersenyum semakin sumringah. Giginya yang masih putih tampak rapi –walau umurnya sudah tua—terlihat.

“Saya dari ujung pak,” kata saya cepat. Lalu, ia menyebut banyak nama aktivis dari sana yang semuanya saya kenal.

Langsung namanya bisa saya tebak. “Syukur sekali pak saya bisa bertatapan dan mendengar kata-kata bapak secara langsung”.

Beliau yang lebih dahulu menyerahkan nomor kontak, bahkan ketika belum sempat saya minta. Belum sempat saya ungkap, “betapa tidak ada kepalsuan antara ketika di televisi dengan berjumpa”. Petugas kereta sudah memanggil, “bapak/ibu, kereta menuju stasiun akhir Yogyakarta sudah ada di jalur satu”.

Orang-orang besar, bagi saya bisa saja berperilaku secara bersahaja. Tidak dibuat-buat. Lalu merasakan dan melakukan perjalanan sebagaimana orang biasa yang melakukan perjalanan. Seharusnya, orang-orang yang merasa tidak besar, dapat bersahaja lebih dari itu.

Saya membayangkan betapa selama ini agak membatasi, apalagi untuk orang yang belum saya kenal. Berbeda sekali dengan tokoh ini, orang penting, yang tidak berbasa-basi.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment