Ada alasan dalam setiap diskusi, bahwa subjektif atau objektif sangat penting. Sebagian bisa berpendapat mengenai posisi subjektif yang membuat bisa berbeda satu sama lain. Namun ada sebagian yang merasa, justru semua pendapat dan gagasan bisa dicari objektifnya.
Kenyataannya alasan ini sering dipakai sebagai rumus dalam diskusi. Setuju atau tidak setuju terhadap satu pendapat, itu satu hal. Hal lainnya adalah mengenai suka atau tidak suka terhadap pendapat tertentu. Hal yang pertama adalah masuk akal, sedangkan yang kedua, berusaha mencari-cari akal.
Di sinilah pentingnya memberi pendapat berdasarkan pertimbangan subjektif atau objektif, bukan pada pertimbangan suka atau tidak. Ketika mendengar suatu pendapat menerima atau tidak bukanlah suatu masalah. Namun yang menjadi dasar kadang-kadang ada suka atau tidaknya kita terhadap seeseorang.
Saya pernah duduk di warung kopi, sambil diskusi panjang mengenai bagaimana cara orang-orang menafsirkan, meneguhkan, dan melaksanakan ajaran agama. Ada orang yang begitu agresif ketika mendengar kata agama. Orang-orang yang bertipe begini, selalu menciptakan ruang untuk bisa mengkritisi setiap kebijakan yang berbau agama. Orang yang begini melihat bahwa agama harus dipisahkan dari kebijakan. Alasan yang diajukan, karena orang-orang yang melaksanakan kebijakan agama, tetapi tidak mampu menahan diri dari berbagai kemungkaran dan kezaliman, maka akan berimbas kepada agama.
Sebaliknya, ada orang yang berpendapat bahwa justru agama yang harus menjadi penjaga berbagai fisik dan mental. Namun demikian tetap diakui, bahwa ada sebagian pihak yang menjadikan agama hanya sebagai alat, sehingga tetap menggunakan simbol agama, pada saat yang sama perilaku seperti korupsi juga tetap terjadi. Pada posisi demikian, kritik terhadap agama pun terjadi.
Ada hal yang penting menjadi catatan, bahwa agama harus bisa tergambar lewat perilaku. Bukankah itu sangat penting? Bagaimana agama berfungsi dalam ruang sosial. Orang yang beragama, harusnya semua keyakinan harus bisa diwujudkan melalui perilakunya sehari-hari. Realitas ini yang akan ditafsirkan oleh orang-orang yang melihatnya.
Orang-orang yang beragama, pasti tidak akan berperilaku buruk. Perilaku ideal dalam agama itulah yang harusnya tampil dalam ruang-ruang sosial kita. Jika ini tidak tampil, maka orang yang merasa beragama pun, akan dilihat oleh orang lain seperti orang yang tidak beragama. Jika orang beragama, namun tetap melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, pada dasarnya ia berkontribusi dalam menghancurkan agama.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.