Saya teringat suatu kejadian yang sudah lama. Di luar negeri, ketika rekaman dan konten menjadi impian liar. Dengan berbagai polah. Suatu waktu, ada seorang perekam yang sudah dipecat dari televisi tempatnya bekerja, melakukan hal yang tidak pantas, namun ia berharap menjadi konten.
Ketika merekam para pengungsi yang melewati Hungaria, dan dikejar-kejar oleh polisi negaranya, sambil merekam ia mempermainkan kaki. Di senggolnya beberapa orang yang sedang sibuk menghindari polisi, dengan kakinya, sehingga orang yang disenggol berguling-guling ke tanah. Ada seorang lelaki yang hampir tua, menggendong anaknya, merasakan bagaimana ia terguling ke tanah dengan anak di pangkuannya.
Rekaman itu bisa jadi akan dianggap sebagai konten yang menarik. Tetapi muatan konteks seperti mata uang bermuka dua. Saat tertentu bisa menimbulkan banyak sanjungan. Namun ketika empati yang terjadi, justru akan muncul hujatan.
Ketika peristiwa itu terjadi, ada perekam lain yang merekam kejadian itu. Lalu perekam yang merekam itu mengirimkan videonya ke seluruh dunia. Dengan jelas terlihat bahwa apa yang dilakukan itu bukan sesuatu yang tidak disengaja. Dalam sekejap, berbagai komentar dan kecaman muncul. Televisi tempatnya bekerja mengeluarkannya dengan segera.
Dari sebuah berita, ada alasan unik yang menyebabkan perekam melakukan itu. Hari itu ia membutuhkan gambar-gambar yang menarik. Terutama perjuangan para pengungsi yang bahkan sampai berguling-guling dalam melewati negara mereka. Mungkin ada pembayangan bahwa hasil rekaman itu akan menghasilkan sebuah reportase yang menggugah. Bukankah ini, pada dasarnya sebagai suatu konten yang akan sangat murahan pada waktunya?
Bisakah ia tidak memperhitungkan bahwa di sekelilingnya itu ada banyak perekam lain. Dan dari salah satu perekam itulah, apa yang dilakukan perekam tadi, menjadi diketahui seluruh dunia.
Teringat dulu ketika suatu pagi, ada penulis jejak yang bercanda begini: wah, mengapa ya hari ini tidak ada yang mati. Baginya orang mati, termasuk mati karena berbagai tembakan ketika konflik, sangat penting sehingga ada jejak untuk hari itu. Kasusnya kurang lebih sama. Ketika ia bercanda dengan itu, ada pencari jejak lain yang sangat tersinggung. Karena ada pencari jejak yang bekerja keras untuk membangun perdamaian, namun tak sedikit, dengan mudah menghancurkannya berkeping-keping.
Ketika kisah canda itu diungkapkan ke teman-temannya, lalu ia menjadi hal yang menggemparkan. Ia dipindahkan, dan ia juga meminta maaf atas candaannya yang kurang ajar. Namun apa yang dijadikan bahan candaan itu, diingat betul karena kondisi kemanusiaan waktu itu yang sudah pada titik nadir.
Hal senada juga terjadi di sana. Para perekam itu ada berbagai tipikal. Sama seperti yang lain, termasuk para orang-orang berilmu. Ada di antara mereka yang juga bertipikal kejam. Namun bukan berarti karena ada satu atau dua orang yang demikian, lantas menganggap itulah cermin dari mereka semua. Tidak bisa demikian. Ada di antara mereka yang sangat sadar bahwa peran perekam bisa menjadi penuntas berbagai masalah dunia. Dan untuk orang-orang yang berpikir begini, sangat menyakitkan merasakan tiba-tiba ada di antara mereka yang melakukan sebaliknya.
Perekam yang memiliki kaki kreatif untuk merekam manusia yang berguling-guling di tanah, adalah gambaran orang-orang yang melakukan sebaliknya tersebut. Dan tipikal yang demikian, merugikan para perekam lainnya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.