Soal Swafoto yang Tak Mau Tahu Keadaan

Swafoto, memoto diri, baik dengan menggunakan alat komunikasi maupun kamera khusus, sesungguhnya bukanlah masalah. Apalagi kecenderungan orang yang memberdayakan konten dirinya untuk kepentingan tertentu. Tidak masalah, dalam artian hak seseorang untuk melakukan itu. Namun jika …

Swafoto, memoto diri, baik dengan menggunakan alat komunikasi maupun kamera khusus, sesungguhnya bukanlah masalah. Apalagi kecenderungan orang yang memberdayakan konten dirinya untuk kepentingan tertentu. Tidak masalah, dalam artian hak seseorang untuk melakukan itu. Namun jika yang ditampilkan tidak normal, berpenyakit, justru akan menjadi masalah lain. Misalnya, orang yang membuat konten diri dari swafoto, namun tidak mengindahkan kaidah-kaidah sosial, justru akan menjadi masalah.

Tetapi begitulah sering terjadi. Saat berhadapan dengan kepentingan yang beraneka ragam, orang sering tidak mengindahkan hal-hal yang sensitif. Sering tidak mau tahu terhadap apa yang diharapkan orang lain dalam lingkungan sosial tertentu. Bahkan ketika berada dalam lingkungan sosial tertentu, melakukan hal-hal yang justru menyakitkan bagi masyarakat yang bersangkutan.

Hal yang harus dipahami soal bagaimana suatu komunitas atau masyarakat, dalam menyiapkan tatanan bertahun-tahun dalam rangka menjaga lingkungan mereka. Tiba-tiba hal itu dirusak oleh orang-orang yang datang dengan berperilaku seenaknya dan tidak mengindahkan tatanan mereka. Hal ini harusnya menjadi masalah. Keadaan ini juga bisa dibalik. Misalnya saat kita datang ke tempat yang memiliki tatanan yang berbeda dengan kita.

Dalam hal selfie, ketidakpedulian terhadap keadaan kerap terjadi. Apa yang diharapkan seseorang, ketika melakukan selfie di tempat yang orang lain mungkin tidak bisa melakukannya? Lalu foto yang dianggap luar biasa itu, dikirim ke semua penjuru? Bukankah tidak lain, selain ingin membuat orang berdecak kagum. Hanya itu. Jika dalam ruang komentar, orang akan memberi apresiasi dengan mengatakan, luar biasa!

Lalu setelah itu, apa yang didapat oleh mereka yang berfoto? Hanya berharap decak kagum itu dari orang lain? Selebihnya tidak? Lalu orang yang berfoto di tempat dan dengan cara yang ekstrem, akan menepuk dada, sambil berfikir hanyalah dialah yang bisa melakukannya.

Pada zaman narsis seperti sekarang, semua foto diedar. Hanya untuk berharap adanya decak kagum. Ironisnya, kadang tidak peduli apa isi dari foto. Etis atau tidak bahkan sering diabaikan saat seseorang sudah terlanjur berharap banyak decak kagum dari orang-orang yang melihatnya.

Selebihnya perilaku yang menyedihkan. Selfie ria di tempat orang yang berduka. Bersuka cita melalui foto pada saat orang lain sedang berjuang menghindari bencana. Bahkan untuk lokasi yang orang lain sedang menyelamatkan diri, masih ada tawaran untuk menjadikannya sebagai daya tarik pandangan mata.

Saya kira termasuk swafoto dalam komunitas dan masyarakat yang sensitif terhadap perilaku tertentu –harusnya menjadi catatan untuk tidak dilakukan. Hak seseorang untuk swafoto ria, namun jangan melupakan keadaan lingkungan sosial tempatnya berpijak.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment