Ada perbedaan hakiki antara maulid dan hari raya, baik idul fitri dan idul adha. Maksud dan konteksnya berbeda. Sejarah ketiganya juga berbeda. Namun dari sisi bagaimana masyarakat menyambutnya, ada sisi-sisi yang hampir sama. Tiga momentum tersebut disambut dengan suka-cita.
Dalam maulid, perayaan dilakukan dengan berbagai cara –tentu saja juga dibarengi ada perbedaan pendapat terhadap perayaan tertentu. Umumnya kampung di Aceh melaksanakan even ini dengan memperbanyak kegiatan agama, dakwah, dan semacamnya –yang biasanya diakhir dengan kenduri –dalam wujud makan bersama.
Dalam masyarakat Aceh, kenduri memiliki makna yang khas. Tidak semata soal makan saja. Makan hanya menjadi salah satu media untuk saling memperbesar gema dakwah. Even ini sekaligus juga menjadi ruang bagi sosialisasi dan interaksi antar masyarakat yang lebih luas. Biasanya satu kampung yang melaksanakan kenduri, akan mengundang kampung-kampung lain untuk datang. Kondisi ini memperbesar syiar dalam kehidupan mereka.
Sejumlah tempat melaksanakan dengan baik, dengan persiapan yang matang. Sesuai dengan syiar, mereka melaksanakan berbagai kegiatan sebagaimana yang diingatkan Rasul –yang menjadi alasan maulid dilaksanakan. Namun dalam realitas, ada saja kampung yang keblablasan, yang melaksanakan maulid seolah hanya untuk makan-makan mewah saja.
Selain maulid, dalam masyarakat kita, momentum yang paling dinanti adalah idul fitri. Berbulan sebelum idul fitri, orang di rantau sudah memesan tiket pulang. Mereka bahkan mempersiapkan kepulangan secara khusus, bahkan hanya setahun sekali. Ada sebagian masyarakat yang mendapat tempat khusus ketika momentum tersebut tiba. Sedangkan idul adha, walau maknanya sangat dalam, dirayakan tidak semeriah idul fitri.
Demikian juga dengan maulid. Ada masyarakat tertentu di pesisir utara yang juga merayakannya secara khusus. Bahkan hingga sampai tiga bulan. Disebut dengan maulid awal, maulid tengah, maulid akhir. Perayaan semacam ini tidak ditemui dalam semua masyarakat. hal yang ingin dirayakan adalah hari lahirnya Nabi Muhammad saw. Tak mengherankan, bahkan dalam masyarakat tertentu, momentum maulid juga menjadi waktu yang tepat untuk pulang menjenguk keluarga besarnya.
Bentuk kegiatan berbeda. Idul fitri, dari semalam, suasana sangat berbeda. Suara takbir menggema di mana-mana. Setiap masjid dan mushalla tampak semarak. Mobil dihias dan di dalamnya bertindih orang untuk saling mengucap takbir. Di kampung, di kota.
Ada filosofi kehidupan yang lebih hebat. Ketika manusia yang satu saling memaafkan manusia lainnya, akan menghilangkan konflik dan ketidakharmonisan secara signifikan. Dunia yang tanpa konflik, penuh dengan suasana harmonis, adalah dunia idaman yang damai, dan membuat kehidupan menjadi sangat mudah dan indah dijalani.
Berbagai momentum yang diperingati, ada pemaknaan tersendiri dalam masyarakat. Bentuknya bisa saja berbeda satu sama lain. Seperti dalam masyarakat saya, merayakan maulid, banyak orang-orang pulang kampung dengan maksud ingin meramaikan silaturrahim.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.