Salah satu tanda yang sering diungkapkan agamawan dalam mengukur usia dunia, pada realitas banjir darah dimana-mana. Pembunuhan massal terjadi di banyak tempat dan terjadi terang-terangan. Bangsa-bangsa besar dan kuat, seperti era Firaun, terang-terangan membasmi bangsa-bangsa kecil.
Realitas itulah yang membuat banyak orang meyakini kita sudah hampir sampai di ujung dunia. Ujung waktu. Berbagai tanda, sudah tampak bersahut-sahutan. Ada yang bisa ditangkap dengan jelas, namun tidak sedikit harus ditafsir. Untuk tanda yang bisa tangkap indra juga tidak sedikit.
Pembunuhan terang-terangan berlangsung dimana-mana, ketika nyawa manusia semakin tidak berharga. Itu menjadi salah satu tanda yang diyakini, ujung waktu dunia sudah semakin dekat. Bencana juga berantai, yang umumnya hadir dari perilaku dan kezaliman manusia.
Bau anyir darah tiada henti. Zaman semakin memperlihat kegarangan, bagaimana manusia habis dimana-mana. Dengan berbagai alasan, kematian menjadi sesuatu yang kesannya biasa saja. Tidak banyak yang menggugat. Bahkan kematian yang ditimbulkan oleh kezaliman manusia itu sendiri.
Mengulang beberapa waktu ke belakang, mengenang dalam waktu satu dasawarsa terakhir, tampak banyak sekali kenyataan yang melompat-lompat. Tidak terhitung jumlah korban.
Kita menyaksikan bagaimana kompetisi senjata sedang berlangsung dengan liar. Negara-negara besar mempertontonkan kebiadabannya di depan negara-negara lemah. Mereka memiliki kunci untuk mengatur negara lain, dengan kekuatan yang dimiliki. Negara kecil –bahkan ini juga menjalar ke organisasi internasional – persis seperti kambing congek yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Sudah begini sudut dunia ini berjalan, dengan perilaku-perilaku negara yang kadang tidak bisa dibedakan lagi antara beradab dan biadab. Kita melihat berbagai hal yang entah apa terjadi pada masa depan, yang barangkali tanpa bisa kita duga.
Perang dalam skala besar dan kecil juga berlangsung dimana-mana seiring dengan semangat saling membunuh. Apa yang terjadi di Gaza menjadi cermin bagaimana kebiadaban manusia seolah tidak bisa dihentikan. Di tempat ini, seolah-oleh negara kuat bisa melakukan segalanya tanpa bisa dicegah. Lalu disusul bagaimana kecenderungan negara-negara lainnya bisa bebas mencaplok dan menghancurkan negara lain.
Dalam suasana dunia seperti sekarang, yang diingatkan para agamawan kita sedang berada di ujung dunia, kita tetap tidak boleh berhenti untuk melahirkan generasi yang mengkampanyekan kebahagiaan dan upaya menyelamatkan manusia. Generasi yang berpikir betapa banyak orang-orang menjadi korban, yang dikurbankan demi keserakahan manusia. Generasi yang setiap saat harus melahirkan aksi nyata untuk tidak semakin menyulitkan kehidupan manusia. Bukan justru generasi yang membuat semakin banyak korban jiwa yang sia-sia.
Al fatihah.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.