Dengan Apa Luka Generasi Ini Akan Diobati?

Dalam optik tertentu dari pengetahuan, apa pun yang terjadi di sekitar kita, pasti berkorelasi dengan hal yang lain. Suatu kekerasan yang terjadi di sebuah tempat atau sekolah, bisa jadi sebagai serangkaian panjang. Kejadian itu menimbulkan …

Dalam optik tertentu dari pengetahuan, apa pun yang terjadi di sekitar kita, pasti berkorelasi dengan hal yang lain. Suatu kekerasan yang terjadi di sebuah tempat atau sekolah, bisa jadi sebagai serangkaian panjang. Kejadian itu menimbulkan kegalauan dan kegelisahan, terutama bagi orang tua. Belum lagi misalnya, bila kita mereka-reka apa yang terpikirkan oleh anak-anak yang merekam perilaku (terpaksa) temannya itu. Yang jelas, menurut kabar, anak-anak yang merekam itu melakukannya dengan gembira.

Di panggung yang lain, anak-anak bangsa kita juga gemar tawuran. Sebagian mereka juga mengaku dipaksa oleh teman dan seniornya. Kita menyaksikan bagaimana anak-anak bangsa begitu garang ketika sedang mengadu ketangkasan memakai alat-alat “perang”.

Anak-anak sekolah yang satu dengan gembira menyerang anak-anak sekolah lainnya. Di tangan mereka ada pedang, tombak, panah, dan alat-alat pembunuh lainnya. Di telivisi kita menyaksikan betapa wajah mereka bersorak ketika berhasil membuat korban orang-orang yang dianggap sebagai lawan.

Sebagai bagian dari ini, fenomena baru mulai bermunculan. Menyiram air keras, yang mana air keras itu juga dengan mudah bisa dibeli di mana saja. Anak-anak “ingusan”, sudah gemar bermain-main dengan air keras. Televisi lalu memberitakannya dengan transparan luar biasa. Mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk menguak “tragedi” itu dengan seterang-terangnya.

Sekarang ini, pola-pola penyiraman dengan air keras pun semakin banyak terjadi –termasuk yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dalam melumpuhkan lawan-lawannya.

Pada arena ini, kita sedang menyaksikan anak-anak bangsa yang berbaju sekolah, berada di panggung perang yang bukan milik mereka. Tapi mengapa sulit dihentikan? Apa yang menyebabkan “tragedi” ini tidak bisa segera diakhiri?

Pertanyaan pentingnya, terutama sekali, mengapa pendidikan kita seperti ini? Mengapa kita tidak becus mengurusi persoalan moralitas anak bangsa yang seharusnya menjadi bagian dari apa yang kita dilakukan dalam keseharian?

Kita harus katakan bahwa sekolah menjadi bagian dari penjaga moral anak-anak didiknya. Pihak sekolah seyogianya mengetahui persis apa yang terjadi dengan mereka.

Konstitusi negara kita, menyebutkan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan iman dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Undang-Undang Pendidikan, sebagai amanat konstitusi, merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping itu, tujuan lainnya adalah mengembangkan potensi didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berilmu.

Hal tersebut menggambarkan bahwa moral dan akhlak merupakan satu bagian dengan sisi pencapaian kadar keilmuan. Namun mengapa hal ini gagal dilaksanakan? Seolah-olah kita hanya mengejar tingkat kecerdasan intelektual dengan melupakan kecerdasan lainnya, kecerdasan emosial dan spritual.

Dengan berbagai kejadian tersebut, sudah saatnya bangsa ini berbenah. Pemerintah sebagai pihak yang penting, harus menjadi penjaga utama tujuan dan fungsi pendidikan tersebut.

Di samping itu, keluarga juga tidak boleh melepaskan tangan. Orang tua harus selalu mengontrol anak-anaknya. Bagaimana pun keberhasilan anak tidak hanya ditentukan oleh negara dan sekolah, melainkan turut pula ditentukan oleh keluarganya.

Pemerintah harus lebih membangun komunikasi. Sekolah harus diberi ketegasan, agar semua kejadian tidak boleh sedikit pun sekolah melepas tangan. Sekolah harus sering-sering memperkenalkan dirinya kepada keluarga siswa. Agar sekolah tahu siapa sebenarnya anak didiknya. Tidak boleh tidak.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment