Luka Berjamaah dari Generasi Sakit

Dunia anak era kini, tampak perkembangan yang berlipat. Orang hukum menyebut, kita harus memahami apa yang terjadi dalam ruang sosial, pasti lebih cepat dari bagaimana hukum mengantisipasi; termasuk bagaimana moral dikuatkan untuk mengantisipasi apa yang …

Dunia anak era kini, tampak perkembangan yang berlipat. Orang hukum menyebut, kita harus memahami apa yang terjadi dalam ruang sosial, pasti lebih cepat dari bagaimana hukum mengantisipasi; termasuk bagaimana moral dikuatkan untuk mengantisipasi apa yang sedang terjadi. Para orang tua bisa saja bertanya-tanya mengapa berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita, semakin liar bawaannya.

Selama ini ada kasus anak sekolah dasar yang melakukan perundungan terhadap temannya, hingga yang dirundung itu bunuh diri. Atau ada anak-anak yang masih sekolah dasar, mengeroyok temannya hingga tewas. Sebabnya sepele. Korban menyenggol hingga makanannya terjatuh.

Lalu kita menyaksikan berita anak sebuah sekolah menengah pertama dipaksa bermesum oleh teman-temannya. Ironisnya, mesum itu direkam secara kolektif oleh mereka yang menonton di sekelilingnya, beramai-ramai. Persis ibarat menonton sebuah panggung, dimana panggung itu diisi oleh adegan-adegan kisah “dewasa”. Parahnya, semua itu dimainkan oleh mereka yang masih anak-anak.

Celakanya, ada oknum di sekolah yang terlibat dalam kekerasan seksual terhadap anak didiknya. Ini sungguh kebiadaban yang luar biasa. Ternyata kejadian semacam ini, juga tak terjadi di sekolah saja. Cerita tentang ada peserta didik, mahasiswa, dan mereka yang secara psikologi berada di bawah kendali pada orang lain, ada yang juga mengalami hal yang sama. Dan ada yang berulang, terjadi berulang-ulang menimpa korban.

Kejadian semacam ini, tidak terjadi dengan sendirinya. Dan, sudah terjadi berulang-ulang. Jika ada kejadikan kekerasan seksual yang dilakukan orang dewasa terhadap anak, perilaku ini sudah “nakal” oleh orang-orang tersebut, yang juga bisa terinspirasi oleh generasi sebelumnya.

Ingatlah juga bahwa telebisi bukan ruang yang ramah bagi anak-anak –termasuk bagi orang dewasa. Di televisi, anak-anak dengan bebas mendapatkan pengetahuan tentang kekerasan, cara menghardik, model menghina, dsb. Di layar kaca, rasanya dengan mudah kita dapatkan anak-anak yang memperlakukan anak-anak lain secara tidak manusiawi.

Melalui berita juga, terbongkar banyak sekali perilaku yang hobi merekam segala sesuatu, termasuk diri yang telanjang, lalu mengirimnya ke berbagai ruang. Para perekam itu, merupakan generasi kita, ada yang oknum pendidik, oknum petinggi, bahkan oknum penyanyi. Mereka dengan senang hati merekam dan membagi-bagi praktik perusak moral tersebut.

Terpaksa atau tidak, kenyataan itu masih didukung lagi oleh sebagian sinetron, yang berisi pesan-pesan amoral.  Isi sinetron tentang kekerasan (fisik, visual, seksual, dan kata-kata), menghinggap wajah televisi kita hampir 24 jam. Dengan alasan kebebasan berekspresi, tayangan-tayangan semacam itu seperti tidak ada yang berani menolak. Ia menjadi keseharian, yang sampai-sampai akan terasing orang yang tidak mendapatkannya.

Perilaku hedonisme juga ditebar secara massal. Media hiburan menjadi alat dan ruang mengkampanyekan nilai-nilai ini. Makin lama, durasi informasi-informasi “sampah” namun diterima masyarakat kita, makin tinggi saja.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment