Berlomba-lomba Mencapai Scopus

Salah satu idaman para pengelola jurnal di Indonesia –bahkan mungkin di seluruh dunia—bisa mendapatkan indeks Scopus. Sebagai catatan bahwa indeks untuk mengukur reputasi secara global bukan hanya Scopus, masih ada yang lain, misalnya Web of …

Salah satu idaman para pengelola jurnal di Indonesia –bahkan mungkin di seluruh dunia—bisa mendapatkan indeks Scopus. Sebagai catatan bahwa indeks untuk mengukur reputasi secara global bukan hanya Scopus, masih ada yang lain, misalnya Web of Science. Namun masing-masing memiliki karakteristiknya. Lantas untuk apa indeks itu mesti dikejar? Terkait dengan tujuan yang lebih besar dari jurnal. Ketika indeksnya baik, maka pancaran indeks hadir melalui pengelolaan yang berkualitas.

Saya mendengar dari pengelola jurnal –mengingat selama saya mengelola jurnal hanya berpengalaman submit akreditasi Sinta—bahwa proses indeks Scopus jauh lebih sederhana dibandingkan Sinta. Salah satu alasannya karena Scopus tidak masuk ke dalam OJS. Mereka hanya memastikan bahwa publikasi artikel sudah dilakukan sesuai SOP jurnal. Berbeda dengan akreditasi Sinta, dimana para asesor bisa masuk ke dalam “mesin” pengelolaan. Mereka tidak hanya menilai bagaimana kualitas artikel dari segi proses dan SOP, melainkan juga bisa membuka bagaimana proses itu dilakukan dalam OJS. Tidak heran, dalam akreditasi Sinta terbagi dalam dua tim asesor, yakni yang melihat bagaimana substansi dan bagaimana pengelolaan dilakukan yang berbasis OJS.

Sebenarnya kedua proses indeksasi tersebut menuntut hal yang sama. Sebelumnya saya sudah menjelaskan apa saja yang dinilai dalam indeks Sinta –melalui evaluasi diri yang dilakukan awalnya oleh masing-masing jurnal. Sebuah jurnal harus memiliki peer-reviewed, dimana semua jurnal harus sudah menerapkan sistem peer review. Soal bahasa, untuk jurnal Sinta masih bisa menggunakan bahasa Indonesia, namun Scopus mensyaratkan salah satu bahasa yang digunakan adalah bahasa resmi PBB. Hal lain yang sama-sama dinilai soal keteraturan terbit. Dalam hal ini yang dilihat apakah suatu jurnal itu sudah terbit dengan waktu yang sudah dijadwalkan. Saya kira banyak jurnal yang tidak mampu menjaga konsistensi ini. Penyebabnya ada beberapa, misalnya ada waktu tertentu, artikel yang sulit dicari –apalagi untuk jurnal yang mengangkat isu yang superspesialis. Atau bisa saja artikelnya banyak, namun tidak berkualitas. Penyebab tidak konsisten jadwal, bisa juga karena proses pengelolaan yang tidak berlangsung dengan baik. Editor tidak memiliki cukup waktu memberi perhatian terhadap jurnal yang dikelola.

Selain hal yang sudah disebutkan, soal pernyataan etika harusnya dimiliki semua jurnal. Ada kebijakan terkait dengan bagaimana etika publikasi yang mesti diuraikan sevara jelas. Bahkan sekarang memiliki standar tertentu yang sudah dirumuskan sejumlah asosiasi jurnal. Selain itu soal nomor digital object identifier (DOI) yang harus dimiliki semua artikel yang sudah terbit.

Soal memastikan online jurnal selalu berjalan dengan baik, kenyataannya tidak bisa dijaga semua kampus. Jaringan yang sering terganggu dan laman tidak bisa diakses, merupakan contoh-contoh masalah ketika dinilai, berdampak secara langsung pada jurnal yang bersangkutan.

Leave a Comment