Materi ini dirangkum Sulaiman Tripa, sebagai bagian bahan belajar mahasiswa doktor ilmu hukum Universitas Syiah Kuala
Salah satu style yang khas, Modern Language Association (MLA). Berdasarkan informasi dari laman organisasi ini [bisa dibaca pada link: https://www.mla.org/About-Us/About-the-MLA], dijelaskan bahwa MLA didirikan pada tahun 1883. Tokoh penting di balik lahirnya MLA adalah Aaron Marshall Elliott (24 Januari 1844 – 9 November 1910), seorang novelis Amerika dan profesor di Universitas Johns Hopkins. Waktu itu, Modern Language Association of America memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk berbagi temuan ilmiah dan pengalaman mengajar mereka dengan kolega dan untuk membahas tren di dunia akademis (Laguardia, 2012). Anggota MLA menyelenggarakan konvensi tahunan dan pertemuan lainnya, bekerja sama dengan organisasi terkait, dan mempertahankan salah satu program penerbitan terbaik di bidang humaniora. Selama lebih dari satu abad, anggota telah berupaya untuk memperkuat studi dan pengajaran bahasa dan sastra.
Munculnya MLA tidak lepas dari sekelompok profesor bahasa dari Amerika Serikat bagian timur yang bertemu selama liburan musim dingin, pada tahun 1883. Para profesor ingin membahas studi dan pengajaran bahasa modern di Amerika Serikat. Beberapa profesor mencatat bahwa pendidikan perguruan tinggi pada waktu itu sebagian besar berfokus pada bahasa-bahasa mati, khususnya Latin, Yunani Kuno, dan Ibrani. Para profesor ini berpendapat bahwa siswa harus diajarkan bahasa modern agar lebih membantu mereka sukses di dunia modern (Mohn, 2024).
MLA menyatakan diri sebagai pendukung utama ilmu humaniora dan mempromosikan studi, pengajaran, dan pemahaman bahasa, sastra, dan budaya. Mereka membangun sejumlah nilai sebagai dasar pengambilan keputusan MLA, yakni kesetaraan, inglusi, dan advokasi. Nilai kesetaraan, menegaskan MLA mendukung dan mendorong ketidakberpihakan, keadilan, dan kesetaraan di seluruh ekosistem ilmu humaniora. Inklusi: MLA menyadari bahwa semua anggota harus merasa memiliki rasa kepemilikan dalam asosiasi—bahwa mereka diterima, didukung, dan dihargai dalam perkataan dan perbuatan, dan bahwa sumber daya asosiasi dapat diakses oleh mereka. Advokasi: MLA memperjuangkan kebebasan intelektual; kondisi kerja yang adil; dan nilai beasiswa, pedagogi, serta keterlibatan publik dalam bidang humaniora.
Sekarang ini, MLA memiliki lebih 20 ribu anggota di seratus negara. Mereka melaksanakan konvensi tahunan, dengan pertemuan tentang berbagai macam subjek, dan seminar yang lebih kecil di seluruh negeri serta berbagai acara daring. Membangun MLA International Bibliography, basis data penelitian terlengkap dalam bahasa dan sastra. Untuk sumber daya, mereka membangun sumber daya digital MLA Handbook Plus dan MLA Style Center. Selain itu ada MLA Commons, jaringan komunikasi ilmiah dan platform penerbitan, serta sumber daya akses terbuka yang mendukung studi sastra dan pedagogi digital. Ada 158 forum untuk kepentingan ilmiah, pengajaran, dan profesional anggota, serta lebih dari 50 komite keanggotaan yang mengawasi kegiatan dan publikasi asosiasi.
Secara sederhana, MLA style sering digunakan dalam ilmu humaniora, termasuk sastra, linguistic, dan seni. Format MLA mengutamakan penulis dan halaman yang dikutip, dalam rangka memudahkan pembaca dalam menemukan kutipan dalam naskah. Salah satu contoh cara penulisan style ini: Tripa, Sulaiman. “Paradigma dalam Penelitian Hukum.” Kanun: Jurnal Ilmu Hukum, 20.2 (2019): 255-272.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.